Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Harga Emas Naik, Investor Diversifikasi ke Reksa Dana

Thursday, 30 July 2020


 

JAKARTA - Instrumen investasi reksa dana bisa jadi pilihan investor di tengah tren kenaikan harga aset emas saat ini. Adapun dari dana investasi yang ada direkomendasikan 20% hingga 40% dana ditempatkan di beberapa instrumen reksa dana.

 

 

 

Untuk itu, Rudiyanto menilai kenaikan harga emas yang saat ini berhasil tembus Rp 1 juta per gram tidak memberikan dampak signifikan pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bahkan beberapa emiten yang memproduksi emas cenderung memiliki valuasi yang sudah cukup mahal saat ini.

 

Dalam menyusun portofolio reksa dana kenaikan harga emas tidak memberikan pengaruh signifikan ke emiten-emiten secara umum. Di sisi lain, kontribusi emiten sektor pertambangan terhadap IHSG memiliki bobot yang cenderung minim.

 

Sementara itu, secara year to date (ytd) IHSG masih minus sekitar 18%, sedangkan beberapa negara seperti Malaysia dan China sudah mencatatkan posisi indeks seperti awal 2020. Untuk itu, IHSG ke depan masih punya peluang untuk mengejar level tersebut, prediksinya hingga akhir tahun IHSG akan berada di kisaran 5.500 hingga 6.000.

 

"Kami menyarankan investor untuk tetap diversifikasi, dan menurut kami dalam investasi timing-nya bisa dilakukan secara berkala. Strateginya masuk saat pasar turun sekitar 1% dalam sehari," ungkapnya.

 

Selanjutnya, Rudiyanto menganjurkan investor untuk mengalokasikan dananya ke aset reksa dana berbasis saham dan campuran, reksa dana berbasis obligasi seperti fixed income dan campuran, atau reksa dana berbasis dolar AS dengan komposisi terbanyak di obligasi. "Alokasinya bisa 20%-40% untuk masing-masing jenis reksa dana tersebut," jelasnya.

 

Untuk instrumen seperti emas, Rudiyanto menilai selama stimulus masih berlanjut maka tren harga emas masih akan sulit turun. Sebaliknya, jika stimulus mulai berhenti maka momentum kenaikan harga emas akan hilang.

 

Sumber : Kontan.co.id