Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Reksa Dana Terproteksi Masih Akan Diminati

Wednesday, 29 July 2020


 

JAKARTA — Masih tingginya minat investor terhadap reksa dana terproteksi pada paruh kedua tahun ini dapat dimanfaatkan per­usa­haan manajer investasi menelurkan produk-produk baru. Apalagi, penerbitan obligasi—sebagai salah satu underlying asset—juga kian semarak.

 

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sepanjang 3 Juni hingga 28 Juli 2020, reksa dana terproteksi (RDT) mendominasi jenis reksa dana yang ada dalam pendaftaran produk investasi di KSEI yakni 23 produk.

 

Selanjutnya ada reksa dana pasar uang dengan jumlah pendaftaran sebanyak 9 produk, reksa dana pendapatan tetap 4 produk, reksa dana saham 4 produk, dan reksa dana exchange traded fund (ETF) 1 produk.

 

Produk reksa dana terproteksi merupakan produk dengan nilai pasar paling besar di pasar reksa dana. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 Juni 2020, reksa dana terproteksi menyumbang 30,67% dari total nilai aktiva bersih industri atau sekitar Rp147,99 triliun.

 

Head of Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan penerbitan reksa dana terproteksi memang meningkat sejak Mei dan Juni 2020 seiring dengan mulai banyaknya emiten yang menerbitkan surat utang di tengah momentum pemulihan pasar.

 

Menurutnya, emiten penerbit obligasi berani kembali masuk ke pasar setelah menahan diri akibat tekanan ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Di sisi lain, yield mulai kembali stabil dan ada pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.

 

“Jadi sepanjang MI bisa menemukan emiten yang fundamentalnya dirasa baik, dengan rating baik, ini memang akan semakin banyak ,” ujarnya kepada Bisnis.

 

Lebih lanjut, Wawan menilai minat investor akan reksa dana jenis ini masih akan tinggi meski sempat ada bayang-bayang penurunan rating obligasi korporasi dan risiko default akibat terdampak pandemi.

 

Pasalnya, kupon yang ditawarkan obligasi korporasi biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan surat berharga negara, otomatis imbal hasil dari produk reksa dana terproteksi berbasis obligasi korporasi akan lebih menarik.

 

“Saya rasa investor masih butuh juga karena kalau bergantung pada SUN itu sulit bersaing, corporate bisa jauh di atasnya,” imbuh Wawan.

 

Sumber : Bisnis.com