Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Pasar Obligasi Bakal Terus Rally, Reksa Dana Pendapatan Tetap Kian Ciamik

Tuesday, 26 September 2017


JAKARTA — Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 4,25% berpotensi mendorong kinerja reksa dana pendapatan tetap seiring reli di pasar obligasi.

 

Pada akhir pekan lalu, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin dari 4,50% menjadi 4,25%.

 

Merespons pemangkasan suku bunga acuan tersebut, indeks harga obligasi di Indonesia atau Indonesia Composite Bond Index menguat 0,59% pada Senin kemarin ke level 238,419. Level ini menjadi rekor tertinggi baru pada tahun ini setelah dua pekan terakhir sempat terkoreksi turun.

 

Wawan Hendrayana, Head Research Infovesta Utama menurunkan, penurunan BI Rate sudah sesuai ekspektasi pelaku pasar. Namun, lebih cepat dari yang diperkirakan para analis.

 

“Dampaknya positif terhadap kinerja reksa dana fixed income karena penurunan suku bunga akan menaikkan harga dan menurunkan yield obligasi,” jelasnya.

 

Sepanjang tahun ini, rerata imbal hasil produk reksa dana pendapatant etap diproyeksi meningkat dari 7,71% menjadi 8%. Retrun tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan return reksa dana saham dan campuran.

 

Namun demikian, kinerja reksa dana pendapatan tetap diperkirakan mulai tumbuh melandai pada tahun depan. Pasalnya, ruang penurunan suku bunga acuan BI semakin tipis. Akibatnya, yield obligasi yang sensitive terhadap perubahan suku bunga akan cenderung landai.

 

Disarankan investor memilih produk reksa dana fixed income yang portofolio investasinya didominasi oleh surat utang negara karena lebih likuid di pasar sekunder dan lebih sensitive terhadap perubahan suku bunga.

 

Adapun, reksa dana pendpatan tetap dengan underlying obligasi korporasi diproyeksi akan meraih cuan lebih besar pada tahun depan.

 

Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wasointana mengatakan, yield SUN tenor 10 tahun berpotensi turun dari 6,5% menjadi 6,3% pada tahun ini. “Dengan BI menurunkan 25 bps lagi, yield SUN 10 tahun bisa turun lagi ke level 6%,” tuturnya.

 

Sementara itu, Katarina Setiawan, Chief Economist and Investment Strategist Manulife Asset Management Indonesia  mengatakan, investasi reksa dana pendapatan tetap dinilai masih akan menarik. Pasalnya, fundamental ekonomi makro yang terjaga kuat membuat pasar obligasi Indonesia masih memiliki ruang untuk pertumbuhan lebih lanjut.

 

Pihaknya sepakat pasar obligasi Indonesia akan melanjutkan rally dalam jagnka panjagn seiring dengan perkembangan yang terjadi di sisi domestik dan global.

 

Sumber : Bisnis Indonesia/Investor Daily