Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Kinerja IHSG Kurang Agresif, Manajer Investasi Lakukan Rebalancing Portofolio Saham

Tuesday, 22 August 2017


JAKARTA – Sejumlah manajer investasi melakukan rebalancing portofolio pada produkr eksa dana saham seiring dengan kurang bergairahnya kinerja industri reksa dana saham sepanjang tahun berjalan 2017.

 

Dari 209 produk yang beredar di pasar, hanya 30 produk yang mampu membukukan return di atas indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik 10,28% sepanjang Januari – Juli 2017.

 

“Memang ada profit taking pada saham-saham yang tahun lalu sudah perform, meski emitennya masih bagus,” kata Driektur and Head of Equity BNP Paribas, Aliyahdin Saugi.

 

Selain aksi ambil untung di pasar modal yang berimbas pada koreksi nilai portofolio reksa dana saham, pemilihan sektor yang belum tepat dapat menyebabkan return reksa dana kurang ciamik.

 

ETF Ciamik

 

Sementara itu, mayoritas produk reksa dana yang dapat diperdagangkan (exchange traded fund/ETF) mampu mencetak kinerja hingga 16,61% secara year to date, di atas indeks acuannya.

 

Berdasarkan data OJK, ada 12 produk reksa dana ETF yang beredar di pasar denan total dana kelolaan sebesar Rp7,59 triliun atau meningkat 25,45% dibanding posisi akhir 2016 sebesar Rp6,05 triliun.

 

Porsi dana kelolaan ETF hanya 1,94% dari total nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana yang tercatat sebesar Rp390,53 triliun pada akhir Juli 2017.

 

Elbert Suryajaya, Head of Research & Consulting Service Infovesta Utama mengatakan, cukup sulit bagi manajer investasi yang mengelola produk reksa dana berbasis saham untuk outperform di tengah bursa saham yang dibayangi volatilitas dan aksi jual investor asing. Utamanya, bagi produk reksa dana yang fokus pada sektor tertentu.

 

“Dalam kondisi seperti itu, peluang reksa dana yang mengacu pada indeks untuk outperform lebih besar. Portofolio ETF banyak yagn mengacu pada idneks dengan sedikit perubahan sehingga lebih mungkin untuk menghasilkan alfa terhadap kinerja indeks acuannya,” katanya.

 

Menurutnya, ada tiga sebaga terkait rendahnya pangsa pasar ETF di industri reksa dana. Pertama, ETF masih merupakan produk baru. Kedua, ETF ditransaksikan melalui bursa sehingga perdagangannya dipengaruhi oleh likuiditas. Ketiga adalah terbatasnya produk ETF yang dapat menjadi pilihan investor.

 

Sumber : Bisnis Indonesia