Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Imbal Hasil Reksa Dana Tumbuh Positif, Reksa Dana Saham Jadi Jawara

Tuesday, 04 July 2017


JAKARTA— Industri reksa dana selama paruh pertama tahun ini masih menjadi produk investasi yang memberikan keuntungan optimal. Indeks dana saham menjadi jawara dengan mencatatkan kinerja tertinggi dibandingkan jenis reksa dana lain sepanjang semester I/2017.

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, seluruh indeks reksa dana mencatatkan kinerja positif selama semester I/2017. Kinerja terbaik dicatatkan oleh indeks reksa dana saham yang menguat 5,85%.

 

Tak terpaut jauh, indeks reksa dana pendapatan tetap dan indeks reksa dana campuran membukukan kinerja masing-masing sebesar 5,69% dan 5,62% sejak Januari-Juni 2017. Sementara itu, indeks reksa pasar uang berada di posisi terakhir dengan kinerja 2,26% sejak awal tahun.

 

Kendati mencetak return tertinggi, indeks reksa dana saham belum mampu melampaui indeks harga saham gabungan (IHSG) sebagai indeks acuannya. Pasalnya, IHSG sempat tumbuh 10,06% ke level 5.829,71 pada akhir perdagangan Kamis (22/6).

 

Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana menuturkan kinerja reksa dana saham mampu menyalip reksa dana pendapatan tetap pada kuartal II/2017. Utamanya, saat IHSG mencatat rekor baru ke kisaran 5.800 pada Juni 2017.

 

Moncernya kinerja reksa dana saham juga didorong oleh ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan penaikan Fed Rate sesuai ekspektasi pelaku pasar.

 

Sentimen tersebut juga berimbas pada kinerja pasar obligasi sehingga kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap dan campuran tidak terpaut jauh dari indeks reksa dana saham.

 

"Dari sekitar 240 reksa dana saham, hanya 45 produk atau 17% yang kinerjanya di atas IHSG. Tren ini sudah berlangsung cukup panjang sejak 2012," kata Wawan ketika dihubungi Bisnis, Senin (3/7).

 

Menurutnya, kinerja indeks reksa dana saham yang terpaut jauh dari IHSG mencerminkan cukup banyak Manajer Investasi yang belum meracik portofolio dengan apik untuk menghasilkan return mendekati atau bahkan melampaui IHSG.

 

Kendati begitu, lanjut Wawan, dengan strategi investasi agresif, aktif trading, dan stock picking yang tepat beberapa produk reksa dana saham mampu mencetak return 20%-30% di atas IHSG.

 

Senada dengan pasar saham, pasar obligasi pun tumbuh positif sepanjang semester I/2017. Infovesta Government Bond Index dan Infovesta Corporate Index naik masing-masing sebesar 6,07% dan 3,90% pada periode tersebut. Porsi penempatan portofolio yang lebih besar pada obligasi pemerintah menjadi penopang kinerja indeks reksa dana berbasis obligasi ini.

 

“Kinerja obligasi kami perkirakan stabil pada tahun ini, tidak tinggi seperti tahun lalu karena walaupun kita dapat investment grade tetapi ada risiko inflasi dan penaikan Fed Rate," tuturnya.

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, dari 249 produk reksa dana pendapatan tetap sebanyak 112 produk atau 45% mencetak kinerja di atas indeks acuannya.

 

 

Pada tahun ini, Wawan memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,5%-7% sehingga rerata return reksa dana fixed income berpotensi naik 7%--8% hingga akhir 2017. Adapun perkiraan pertumbuhan indeks reksa dana saham sekitar 10%--12% dan indeks reksa dana campuran 8%--10% pada tahun ini.

 

Head Investment Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kinerja reksa dana saham berpotensi terus unggul hingga akhir tahun. Kuncinya, realisasi pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten kuartal II/2017 yang lebih tinggi, serta APBN yang kredibel.

 

“Kinerja reksa dana saham kami masih di bawah IHSG, karena agak terlambat masuk ke saham sektor pertambangan yang naik pada kuartal I/2017. Sekarang kami terus rotasi pembobotan portofolio supaya return-nya bisa mendekati IHSG atau bahkan di atasnya,” ujarnya.

 

Desmon menuturkan pada semester I/2017 saham-saham banyak dikoleksi produk reksa dana saham antara lain sektor perbankan, konsumsi, industri dasar, dan aneka industri. Pada semester II/2017, saham-saham perbankan diproyeksi bakal tetap menjadi favorit.

 

"Semester II/2017 saham emiten BUMN konstruksi berpotensi bangkit seiring realisasi belanja modal APBN. Sektor konsumsi juga punya potensi recovery sesuai pulihnya daya beli masyarakat," tutur Desmon.

 

Selain saham-saham lapis utama, MI juga membidik saham-saham second liner dan third liner sebagai alpha creation.

 

Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan kinerja reksa dana yang kinclong ditopang oleh strategi investasi yang overweight pada sektor keuangan, pertambangan, infrastruktur, dan aneka industri sejak awal tahun.

 

“Semester I/2017 kontribusi paling besar kenaikan net asset value (NAV) reksa dana saham berasal dari JSMR, TLKM, BBRI, BBNI, dan GGRM,” kata Jemmy, Senin (3/7).

 

Adapun strategi investasi reksa dana fixed income berfokus pada obligasi pemerintah jangka panjang. Menurut Jemmy, strategi itu sejalan dengan ekspektasi kenaikan peringkat dari S&P yang terealisasi pada Mei 2017.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170704/244/667984/imbal-hasil-investasi-reksa-dana-kinclong