Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Tumbuh 21,89% per Mei, Dana Kelolaan Reksa Dana Syariah Kian Tambun

Thursday, 15 June 2017


JAKARTA — Sepanjang Januari-Mei 2017, dana kelolaan reksa dana syariah tumbuh 21,89% menjadi Rp18,18 triliun. Kendati tumbuh pesat, pangsa pasar reksa dana syariah belum mampu menembus 5% dari dana kelolaan industri reksa dana nasional.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, jumlah produk reksa dana syariah yang beredar di pasar modal Indonesia mencapai 149 produk. Produk-produk tersebut menghimpun dana investasi sebesar Rp18,18 triliun.

 

Secara industri, dana kelolaan reksa dana syariah menggemuk Rp3,26 triliun atau tumbuh 21,89% sepanjang tahun ini. Tingkat pertumbuhan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan dana kelolaan industri reksa dana nasional yang tercatat sebesar 10,08% menjadi Rp372,88 triliun.

 

Kendati tumbuh dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan industri, tetapi pangsa pasar reksa dana syariah baru 4,87% atau belum mampu menembus 5% dari total industri.

 

Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia, menuturkan reksa dana syariah berpeluang besar untuk terus berkembang di Tanah Air.

 

Besarnya jumlah investor reksa dana tersebut, lanjutnya, mencerminkan permintaan terhadap produk-produk investasi berbasis syariah. Investor pun tetap tertarik terhadap reksa dana saham syariah kendati termasuk produk investasi berisiko tinggi. Apalagi produk tersebut tidak boleh mengoleksi saham emiten sektor keuangan yang kerap menjadi motor pertumbuhan IHSG.

 

Selain reksa dana saham, Legowo menilai minat investor mengoleksi reksa dana berbasis sukuk juga cukup positif. "Dari sisi MI tantangannya likuiditas sukuk di pasar sekunder dan literasi masyarakat terhadap investasi reksa dana dan keuangan syariah yang masih rendah," imbuh Legowo.

 

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Danareksa Investment Management Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan periode Ramadan dan Lebaran tidak berimbas signifikan terhadap investasi reksa dana syariah.

 

"Kami kira akan laku, ternyata biasa saja. Masyarakat  terima THR tetapi itu porsinya untuk konsumsi bukan investasi," ujarnya.

 

Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, perkembangan reksa dana syariah berkaitan erat dengan sosialisasi kepada masyarakat secara umum dan komunitas keagamaan yang potensial menjadi investor.

 

Di sisi kinerja, Wawan mengatakan reksa dana syariah terdorong oleh menguatnya saham-saham emiten konsumer dan infrastruktur. Namun, terbebani oleh saham emiten berbasis komoditas yang cenderung agak turun.

 

"Tahun ini reksa dana syariah saham prospeknya bagus, tetapi harus diwaspadai koreksi dari saham komoditas," ucapnya.

 

Wawan menambahkan, produk reksa dana saham syariah offshore punya daya tarik tersendiri seiring dengan moncernya pasar saham di kawasan Asia Pasifik, seperti Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, dan India. Sepanjang tahun berjalan, return Kospi mencapai 17,18%, FTSE BM 13,08%, Hang Seng 17,51%, dan S&P Sansex 16,92% saat IHSG tumbuh 7,76%.

 

"Reksa dana syariah offshore secara kinerja bagus sekali, karena indeks Singapura, Hong Kong tumbuh double digit. Cocok untuk diversifikasi dan buat investor yang punya kebutuhan dalam dolar AS," pungkasnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170615/442/662734/%20Dana%20Kelolaan%20Kian%20Tambun