Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Investor Beralih ke Risiko Rendah, Pertumbuhan Dana Kelolaan Melambat

Thursday, 08 June 2017


JAKARTA — Pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana kian melambat. Dana kelolaan reksa dana hanya naik 0,77% dari Rp370,05 triliun pada April menjadi Rp372,88 triliun pada akhir Mei 2017.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, dana kelolaan reksa dana telah meningkat Rp34,14 triliun atau 10,08% sepanjang tahun berjalan dari posisi Rp338,75 triliun pada akhir 2016.

 

Pada Mei 2017, dana kelolaan reksa dana hanya tumbuh 0,77% month on month menjadi Rp372,88 triliun. Tingkat pertumbuhan itu terus turun sejak Maret dan April yang masing-masing naik 2,52% dan 1,55% secara bulanan.

 

Dari sisi jenis, dana kelolaan reksa dana pasar uang naik paling tinggi sepanjang tahun berjalan. Dana kelolaan reksa dana pasar uang naik 59,72% dari Rp28,54 triliun pada akhir 2016 menjadi Rp45,59 triliun pada 31 Mei 2017.

 

Selain itu, dana kelolaan reksa dana indeks juga melesat 58,23% year to date dari Rp601,59 miliar menjadi Rp951,89 miliar. Adapun dana kelolaan reksa dana pendapatan tetap tumbuh 12,41% menjadi Rp78,19 triliun dan reksa dana campuran naik 10,79% menjadi Rp21,05 triliun.

 

Pada periode Januari-Mei 2017, dana kelolaan reksa dana saham justru susut 6,23% dari Rp113,1 triliun pada akhir 2016 menjadi Rp106,05 triliun.

 

Prihatmo Hari Mulyanto, Direktur Utama Danareksa Investment Management, menuturkan bahwa produk reksa dana jenis pendapatan tetap, proteksi, dan pasar uang menjadi pendorong pertumbuhan dana kelolaan sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, dana kelolaan reksa dana saham cenderung tidak bergerak.

 

"Investor cari aman, menggeser portofolio ke produk dengan risiko rendah karena dari awal dari ribut-ribut politik. Harusnya upgrade S&P, pasar modal bisa naik kencang," ujarnya, Rabu (7/6).

 

Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P. Lubis mengatakan, pertumbuhan dana kelolaan pada tahun ini cenderung moderat. Manajer Investasi pelat merah ini mengelola dana sebesar Rp43 triliun atau naik sekitar 10% dibandingkan dengan posisi akhir 2016 sekitar Rp38 triliun-Rp39 triliun.

 

"Dalam 5 bulan, dana kelolaan tumbuh 10%, oke lah. Pertumbuhannya moderat dan organik saja, belum ada lonjakan tetapi juga tidak ada penurunan," kata Edward.

 

PROFIT TAKING

 

Menurut Edward, kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan upgrade rating ke level investment grade S&P memicu aksi profit taking investor reksa dana saham. Akibatnya, saat pasar mencetak return 8,33% ytd, dana kelolaan reksa dana saham justru terkoreksi 6,23%.

 

"Kemarin ekspektasinya lumayan tinggi, kemudian tercapai ya sudah selesai dulu dan merealisasikan keuntungan. Jadi di pasar saham sepertinya rolling up-nya berhenti, IHSG di situ-situ saja," paparnya.

 

Kendati begitu, Edward menilai baik reksa dana pendapatan tetap maupun reksa dana saham memiliki prospek sebagai pengungkit dana kelolaan. Namun, investor masih menunggu akselerasi pasar modal pascakeputusan S&P. Pasalnya, belum terlihat aliran dana investor asing sebagai realokasi baik ke pasar saham maupun obligasi Indonesia.

 

"Setelah Indonesia investment grade, cost of fund pasti turun dan valuasi di bursa dapat discount rate sehingga seolah-olah lebih murah. Tetapi harus didukung sentimen positif di dalam negeri dan likuiditas flow yang lebih konsisten," pungkasnya.

 

Selain dampak kembali masuknya dana yang ditarik pada akhir tahun, melonjaknya dana kelolaan reksa dana pasar uang juga dipengaruhi oleh distribusi reksa dana melalui platform online. Pasalnya, produk yang dikenalkan kepada investor awam berupa reksa dana pasar uang.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170608/442/660312/investasi-reksa-dana-pertumbuhan-dana-terus-melambat