Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Sentimen S&P, Reksa Dana Saham Berpotensi Melejit

Friday, 26 May 2017


JAKARTA — Reksa dana saham diproyeksikan menjadi primadona dengan potensi kinerja terbaik pada tahun ini seiring dengan kenaikan rating Indonesia ke level layak investasi dari Standard and Poor's.

 

Soni Wibowo, Direktur Bahana TCW Investment Management, menuturkan predikat investment grade dari S&P Global Ratings semakin memperkuat proyeksi tingginya ekspektasi return reksa dana saham dibandingkan dengan reksa dana campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang pada tahun ini.

 

"Dari awal prediksi kami reksa dana saham punya ekspektasi return yang lebih tinggi pada tahun ini. Ekspektasinya sekitar 15%, itu target konservatif. Yang jelas, targetnya melampaui kinerja indeks," kata Soni ketika dihubungi Bisnis, Rabu (25/5).

 

Menurutnya, euforia investment grade dari S&P berpotensi mendorong capital inflow dari investor asing. Arus modal tersebut cenderung masuk ke saham-saham berkapitalisasi jumbo di sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer.

 

Senada dengan prospek tersebut, Bahana TCW pun fokus mengoleksi saham-saham big cap dalam portofolio investasi reksa dana saham yang dikelola. Rotasi saham tidak serta merta dilakukan saat terjadi sentimen di market.

 

"Tidak banyak perubahan portofolio, kami lebih fokus pertimbangkan valuasi dan fundamental emiten," imbuhnya.

 

Soni menambahkan, sentimen S&P yang sempat memicu IHSG menyentuh level 5.800 cenderung dimanfaatkan oleh investor untuk aksi ambil untung.

 

"Daripada mengejar valuasi yang kemahalan, lebih baik tunggu koreksi untuk masuk ke reksa dana saham. Karena saat indeks naik, banyak yang take profit dulu," pungkasnya.

 

Senada, Direktur Asanusa Asset Management Siswa Rizali mengatakan, prospek reksa dana saham kian menarik pasca-investment grade dari S&P. Pasalnya, valuasi saham menjadi relatif lebih murah.

 

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi pemulihan pertumbuhan ekonomi yang berdampak positif terhadap laba emiten di pasar modal. Kondisi tersebut, kata Siswa, mengembalikan momentum investasi para investor global menuju pasar emerging market. Khususnya, negara besar yang teruji secara fundamental makro, seperti Indonesia dan India. "Long term average, return reksa dana saham bisa 15% lebih," ucapnya.

 

Menurut Siswa, portofolio reksa dana saham fokus pada emiten berkapitalisasi besar. Strategi tersebut diambil seiring dengan kecenderungan arus dana asing masuk ke saham big caps dan fundamental emiten yang cenderung lebih stabil.

 

Saat ekonomi stagnan, lanjutnya, emiten large cap relatif bertahan, sedangkan small caps berisiko menghadapi masalah. Sementara itu, saat ekonomi membaik, emiten large cap bisa tancap gas dengan menggulirkan ekspansi.

 

PENDAPATAN TETAP

Di sisi lain, Siswa menilai, prospek reksa dana pendapatan tetap juga ikut terdongkrak oleh sentimen S&P. Pasalnya, kenaikan peringkat berpotensi menurunkan tingkat yield obligasi dari posisi sekarang sekitar 6,9% untuk SUN tenor 10 tahun.

"Bahkan dengan asumsi ada capital gain, relatif return-nya tidak jauh beda dengan yield, alias 6,5%-7,5%. So, relatif saham lebih menarik daripada SUN atau obligasi korporasi," kata Siswa.

 

Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, kenaikan harga SUN sepanjang kuartal I/2017 mendorong kinerja reksa dana pendapatan tetap melampaui kinerja reksa dana jenis lain.

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, return reksa dana pendapatan tetap sejak Januari hingga 19 Mei 2017 tercatat sebesar 4,8%. Pada periode yang sama, kinerja reksa dana saham dan campuran tercatat sebesar 4,37% dan 4,57%.

 

"Kuartal II/2017 kemungkinan reksa dana fixed income masih akan lebih menarik karena S&P upgrade. Reksa dana berbasis obligasi ini paling diuntungkan karena harga pasti naik, selain itu masih mendapatkan kupon," kata Jemmy.

 

Tak hanya reksa dana pendapatan tetap, Jemmy juga memproyeksi imbas positif investment grade S&P terhadap pasar saham di Indonesia. Kendati begitu, dampaknya diperkirakan tidak sebesar pasar obligasi.

 

Sucor Asset Management menargetkan, IHSG dapat menyentuh level 6.100 pada tahun ini dengan asumsi Indonesia memperoleh peringkat investment grade dari S&P.

 

"Kuartal II/2017 kami lebih meningkatkan porsi saham blue chip seperti perbankan, telekomunikasi, dan aneka industri. Dengan harapan dana asing yang masuk akan membuat indeks naik lagi," imbuhnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170526/441/656822/sentimen-sp-reksa-dana-saham-melejit