Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Hanya Reksa Dana Pasar Uang yang Raih Return Positif

Wednesday, 17 May 2017


JAKARTA — Valuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian mendekati harga wajarnya mendorong aksi ambil untung investor. Seiring dengan koreksi pasar, kinerja reksa dana saham, campuran, dan pendapatan tetap sempat terkoreksi negatif pada pekan kedua Mei 2017.

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana saham, campuran, dan pendapatan tetap membukukan return mingguan negatif dan hanya reksa dana pasar uang yang mencetak kinerja positif.

 

Pada periode 5 Mei-12 Mei 2017, indeks reksa dana saham turun 0,87%, indeks reksa dana campuran -0,53%, dan indeks reksa dana pendapatan tetap -0,28% dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Pada periode tersebut, hanya indeks reksa dana pasar uang yang konsisten mencetak return positif 0,1% week on week.

 

Akibat koreksi tersebut, return rerata produk reksa dana saham yang tercermin lewat Infovesta Equity Fund Index terkikis menjadi 2,51%, Infovesta Balanced Fund Index 3,3%, dan Infovesta Fixed Income Fund Index 4,09% secara year to date.

 

"Saat IHSG terus menembus rekor, ada sentimen kurang bagus dari sisi politik dan antisipasi rating Indonesia yang tidak naik. Faktor itu jadi kesempatan investor untuk profit taking," ucap Direktur Panin Asset Management Rudiyanto kepada Bisnis, Selasa (16/5).

 

Rudiyanto menegaskan, faktor yang paling menonjol, yakni IHSG yang mendekati valuasi wajarnya pada level 6.000. Dengan kondisi tersebut, wajar apabila investor ambil untung atas hasil investasi di pasar saham, termasuk dalam instrumen reksa dana saham.

 

Dia menampik fenomena sell in May and go away sedang terjadi di pasar modal Indonesia. Pasalnya, fenomena anomali itu terbukti tidak konsisten. Pada Mei 2016, lanjutnya, IHSG justru tumbuh cukup signifikan.

 

"Kalau mengikuti sell in May and go away, investor hanya investasi pada November-April. Lantas menarik seluruh investasinya pada Mei hingga Oktober, untuk kembali masuk ke pasar pada November. Bagi investor kalau mau ikuti fenomena itu silakan, tetapi menurut saya lebih baik fokus pada valuasi," tegasnya.

 

SALAH STRATEGI

 

Selain itu, kinerja reksa dana saham yang terkoreksi lebih disebabkan oleh kesalahan strategi pemilihan saham dari manajer investasi. Kendati begitu, Rudiyanto enggan mengambil kesimpulan penyebab koreksi kinerja reksa dana pada Mei 2017 lantaran masih tersisa dua pekan pada bulan ini.

 

Terkoreksinya imbal hasil reksa dana sejalan dengan kondisi pasar saham dan obligasi di Tanah Air. Pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan terkoreksi 0,14% ke level 5.675,22 pada Jumat (12/4). Senada dengan IHSG, indeks obligasi pemerintah (Infovesta Government Bond Index) juga turun 0,13% sepanjang pekan lalu.

 

Akbar Syarief, Head of Fixed Income Mandiri Manajemen Investasi, mengatakan bahwa tingkat yield obligasi pemerintah cenderung bergerak stagnan pada rentang 7,0%-7,1%. Pasalnya, pasar obligasi masih menunggu keputusan S&P Rating terkait review peringkat surat utang Indonesia.

 

"Kami lihat saja hasil S&P berikan investment grade atau enggak. Kalau iya, pasar obligasi akan rally lagi dan yield berpotensi turun ke kisaran 6%-6,5%," tuturnya.

 

Sebaliknya, apabila Indonesia gagal meraih investment grade dari S&P Ratings, pasar surat utang berisiko mengalami koreksi. Pasalnya, pelaku pasar terutama investor asing memiliki ekspektasi rating upgrade sehingga terus mengoleksi obligasi Indonesia.

 

"Tetap harus cautious karena yield sekarang tidak bergerak ke mana-mana. Kalau enggak dapat investment grade, sepertinya pasar akan koreksi," imbuhnya.

 

Selain hasil pemeringkatan S&P Ratings, pasar obligasi juga mengantisipasi lonjakan inflasi musim puasa dan Lebaran yang berpotensi mengerek yield.

 

Secara historis, kata Akbar, return reksa dana berbasis obligasi maupun saham cenderung terkoreksi pada kuartal III/2017 sebelum kembali merangkak naik jelang tutup tahun.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170517/441/654243/return-mingguan-reksa-dana-hanya-pasar-uang-yang-positif