Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Dana Kelolaan Tumbuh 23,24%, Reksa Dana ETF Kian Berkembang

Monday, 10 April 2017


JAKARTA - Produk reksa dana yang dapat diperdagangkan (exchange traded fund/ETF) di bursa efek kian berkembang. Dari sisi dana kelolaan, nilainya mencapai Rp7,46 triliun pada akhir Maret dengan tingkat pertumbuhan 23,24% sepanjang kuartal I/2017.

 

Otoritas Jasa Keuangan mencatat ada sepuluh produk reksa dana ETF yang beredar di pasar. Sembilan produk diluncurkan oleh PT Indo Premier Investment Management dan satu produk dikelola oleh PT Pinnacle Persada Investama. Dengan begitu hanya ada dua dari 85 perusahaan manajer investasi yang menerbitkan produk reksa dana ETF di Indonesia.

 

Direktur Utama PT Indo Premier Investment Management (IPIM) Diah Sofiyanti menuturkan, minat investor institusi keuangan nonbank (IKNB) cukup besar untuk masuk ke produk ETF fixed income itu. Alhasil, total dana kelolaan IPIM pada kuartal I/2017 tumbuh 23,5% dari Rp5,1 triliun menjadi Rp6,3 triliun pada akhir Maret 2017.

 

"Pendorongnya dana kelolaan ETF government bond yang baru kami luncurkan dan sudah punya dana kelolaan sesuai target Rp1 triliun," ucapnya, Kamis (6/4).

 

Sebagai pemain yang mendominasi pasar, Ofi mengaku harus siap-siap menghadapi pesaing. Kendati begitu, dia menyambut baik masuknya pemain baru yang fokus pada produk ETF agar industri semakin besar dan awareness investor meningkat.

 

Selain IPIM, PT Pinnacle Persada Investama juga serius menekuni produk ETF. Presiden Direktur PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menyebut, ETF sebagai produk reksa dana masa datang yang menggabungkan semua karakter positif reksa dana konvensional dengan fleksibilitas yang dimiliki efek saham.

 

INOVASI ETF

 

Guntur memaparkan, inovasi ETF masih luas sekali. Namun, regulasi Otoritas Bursa membuat produk ETF di Indonesia unik dibandingkan dengan ETF di negara-negara lain. Pasalnya, ETF hanya dapat dibentuk dengan skema kontrak investasi kolektif (KIK) atau collective investment scheme.

 

Berdasarkan pengalaman malang melintang di Wallstreet, Guntur menilai industri ETF di Indonesia masih dalam tahap awal sekali. Para pelaku industri saling bekerja sama untuk memajukan industri ETF di Tanah Air.

 

"Inovasi ETF kami berkonsep SmartBeta/Strategic Active yang berdasarkan ‘factor based investment strategy’ melalui penerapan strategi investasi secara sistematis dengan approach kuantitatif dan fundamental," pungkasnya.

 

Tak dapat dipungkiri, industri ETF di Indonesia masih sangat kecil. Porsinya hanya 2,05% dari total dana kelolaan produk reksa dana yang mencapai Rp364,42 triliun hingga Maret 2017, serta kurang dari 100 investor institusi dan 1.000 investor ritel. Bertambahnya pelaku industri perlu diimbangi oleh pemahaman investor dan keberpihakan regulator agar produk ETF kian dipahami dan tantangan yang menghambat dapat dibenahi.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170410/441/644009/bersama-membesarkan-etf