Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Bursa Masuki Tren Bullish, Reksa Dana Saham Mulai Bergairah

Monday, 20 March 2017


JAKARTA — Return reksa dana saham mulai terdongkrak seiring dengan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menembus level tertinggi sepanjang sejarah ke level 5.540,43 pada akhir perdagangan Jumat (17/3).

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, indeks reksa dana saham hanya tumbuh 0,26% pada Januari dan -0,16% pada Februari 2017. Kinerja tersebut membuat reksa dana saham menjadi jenis reksa dana dengan kinerja terburuk sepanjang 2 bulan pertama tahun ini, yakni dengan rerata return sebesar 0,11%.

 

Namun, sepanjang Maret 2017, kinerja reksa dana saham bergerak agresif seiring dengan tren bullish di lantai bursa. Salah satunya tercermin dari kenaikan indeks reksa dana saham 1,6% sejak 1 Maret-17 Maret 2017.

 

Return tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rerata produk reksa dana campuran dan reksa dana pendapatan tetap yang sepanjang bulan ini mencetak kenaikan indeks sebesar 1,12%.

 

Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengatakan, pasar saham dalam tren positif, tetapi berpotensi mengalami konsolidasi untuk merespons kebijakan The Fed dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

 

"Target kami IHSG 5.800 ada potensi upside sekitar 10% untuk pasar saham," ujar Hanif kepada Bisnis, Jumat (19/3).

 

Untuk memanfaatkan bullish di pasar saham, Avrist AM membidik saham-saham emiten blue chip untuk dikoleksi. Adapun sektor yang dipilih, antara lain konsumer, telekomunikasi, dan pertambangan.

 

"Kami netral di keuangan, kurangi sektor properti dan semen. Lebih defensif, tetapi cari yang memberikan dividen tinggi," paparnya.

 

Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo menuturkan, IHSG berpotensi membukukan pertumbuhan 17,6% pada 2017. Faktor pendorongnya, antara lain membaiknya pendapatan emiten dan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang diharapkan lebih tinggi dibandingkan dengan capaian 2016 yang tercatat sebesar 5,02%.

 

“Faktor dari luar negeri masih jadi risiko, seperti masih ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, rencana kenaikan tingkat suku bunga di AS, dan berbagai pemilihan umum di Eropa,” kata Soni.

 

Pada Rabu (15/3),  Federal Open Market Committee menaikkan tingkat suku bunga Fed Fund Rate 25 basis poin menjadi 0,75%-1%. Keputusan itu sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga justru berdampak positif terhadap pasar saham Indonesia.

 

Pada perdagangan Kamis (16/3), IHSG menanjak 1,58% atau 85,86 poin ke level 5.518,24 dengan nilai transaksi sebesar Rp8,63 triliun. Lantas pada Jumat (17/3), IHSG kembali naik tipis 0,4% atau 22,19 poin dan ditutup pada level 5.540,432 atau melampaui rekor tertinggi sebelumnya, yakni 5.523,29.

 

"Imbal hasil reksa dana saham minus sepanjang Februari 2017, akan tetapi kinerja reksa dana saham berpotensi terus menguat hingga akhir tahun ini. Sebaliknya, kinerja reksa dana campuran berpotensi melemah," ujarnya.

 

Adapun reksa dana pendapatan tetap diperkirakan membukukan kenaikan 8%-10% pada tahun ini. Pasalnya, pasar obligasi memiliki katalis positif karena diperkirakan permintaan obligasi masih terus menanjak.

 

Direktur Utama Victoria Manajemen Investasi Juntrihary M. Fairly menambahkan, pada semester pertama secara historis market masih bergerak positif mengantisipasi earning season dan pembagian dividen. Dalam jangka menengah dan panjang, lanjutnya, program akselerasi pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan hasil dan berpotensi mendorong laju pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. 

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170320/441/638384/reksa-dana-saham-mulai-bergairah