Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Masih Tetap Menarik, MI Tetap Agresif Terbtikan Reksa Dana Saham

Tuesday, 14 March 2017


JAKARTA — Pasar saham yang belum bergairah tidak menyurutkan minat sejumlah manajer investasi untuk menerbitkan produk reksa dana saham baru.

 

Sepanjang tahun berjalan, tercatat sebanyak 10 produk telah mengantongi izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).Produk tersebut akan segera meramaikan pasar reksa dana saham konvensional.

 

Hingga akhir Februari 2017, total produk reksa dana saham yang beredar mencapai 227 dengan total dana kelolaan sebesar Rp109,42 triliun. Nilai tersebut susut dari posisi akhir 2016 sebesar Rp113,1 triliun.

 

Dari sisi kinerja, rerata produk reksa dana saham membukukan return 0,11% sepanjang Januari-Februari 2017. Return tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rerata produk reksa dana pendapatan tetap 1,73% dan reksa dana campuran 1,35%.

 

Wisnu Karto, analis BNI Asset Management, menuturkan pergerakan IHSG masih dibayangi oleh ketidakpastian. Merujuk data Bloomberg, IHSG telah naik 2,13% dari level 5.296,71 pada akhir 2016 ke level 5.409,37 pada penutupan perdagangan Senin (13/3).

 

"Memang uncertainty masih cukup tinggi, terutama dari sisi eksternal karena Fed Rate akan naik, kebijakan proteksionisme Trump, dan uncertainty Uni Eropa," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (13/3).

 

IHSG diperkirakan naik ke level 5.970 pada akhir tahun ini atau mencetak return 12,71% sepanjang tahun ini. Kendati dibayangi oleh ketidakpastian eksternal, Wisnu berharap faktor internal dapat menjadi penopang pergerakan IHSG.

 

Katalis domestik yang berpotensi membawa angin segar di pasar saham, antara lain dampak pemangkasan BI Rate secara agresif pada tahun lalu, menguatnya konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi, serta laba emiten yang berpotensi naik 10%-15%.

 

Dengan begitu, Wisnu optimistis produk reksa dana saham masih menarik bagi investor. Potensi return yang dapat dikantongi berpotensi sejalan dengan kinerja IHSG atau sekitar 12%.

 

Menurut Wisnu, perusahaan aset manajemen yang mengantongi dana kelolaan Rp17,9 triliun hingga 22 Februari 2017 ini melirik saham-saham emiten berbasis domestik. Misalnya, emiten barang konsumsi, konstruksi, kesehatan, dan tambang batu bara.

 

Direktur Utama Victoria Manajemen Investasi Juntrihary M. Fairly mengatakan, pada semester pertama secara historis market masih bergerak positif mengantisipasi earning season dan pembagian dividen.

 

Dalam jangka menengah dan panjang, lanjutnya, program akselerasi pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan hasil dan berpotensi mendorong laju pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi.

 

Selain itu, kendati pasar saham mengantisipasi tekanan akibat potensi kenaikan Fed Fund Rate, tetapi Indonesia memiliki potensi rating upgrade dari S&P yang dapat menjadi katalis positif baik di pasar obligasi maupun saham.

Pada bagian lain, di tengah menguatnya sentimen penaikan Fed Fund Rate yang berimbas pada peningkatan US treasury, diprediksikan tidak membuat pasar obligasi berguncang.

 

I Made Adi Saputra, analis fixed-income MNC Securities, menilai meskipun US treasury meningkat, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berpotensi turun. Menurutnya, peminat obligasi Indonesia tetap akan ramai, walaupun spread antara US treasury dan yield obligasi bakal mengecil.

 

Kondisi tersebut, katanya, akan terjadi dengan catatan bila nilai tukar rupiah stabil, laju inflasi terkendali, perbaikan pada ekspor dan adanya akselerasi peringkat dari lembaga pemeringkat S&P.

 

Kemarin, yield surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun bertengger di posisi 7,4%. Made memproyeksikan bila Fed Fund Rate (FFR) naik tiga kali, US treasury berpotensi terkerek menjadi 2,75%, sehingga yield SUN berpotensi berada di sekitar 7,25%.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170314/441/636726/mi-tetap-agresif