Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Perolehan NAB Reksa Dana Syariah Luar Negeri Masih Seret

Friday, 10 March 2017


JAKARTA — Pada Februari 2017, produk reksa dana saham efek syariah luar negeri (syariah offshore) tepat berusia 1 tahun. Kendati para manajer investasi cukup antusias untuk meluncurkan produk tersebut, tetapi sambutan investor ternyata masih minim.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, saat ini baru ada delapan produk reksa dana syariah offshore yang beredar di pasar.

 

Sudah 1 tahun berjalan, total dana kelolaan (nilai aktiva bersih/NAB) delapan produk reksa dana saham syariah global itu baru mencapai US$92,64 juta pada akhir Februari 2017. Padahal pada saat peluncuran, satu perusahaan aset management membidik dana hingga US$150 juta untuk produk ini.

 

Direktur Utama Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan, Schroder Global Sharia Equity Fund baru mengantongi dana kelolaan sebesar US$18,2 juta. Realisasi itu masih jauh dari target US$100 juta-US$150 juta yang dipatok pada saat launching produk ini.

 

"Pada Desember 2016-Januari 2017 itu, OJK postpone izin bank yang mengajukan untuk menjual reksa dana yang berinvestasi di luar negeri. Tapi sekarang sudah jalan lagi," ujarnya, Rabu (9/3).

 

Akibatnya, jalur distribusi produk yang berinvestasi hingga 100% dalam efek saham syariah di luar negeri itu menjadi tersendat. Padahal dari sisi kinerja, reksa dana ini bisa dibilang cukup kinclong. Pada Februari 2017, return 1 bulan sebesar 2,77% atau 3,63% secara year to date.

 

Kendati dana kelolaan masih seret, Schroders Indonesia tetap pasang target dana kelolaan hingga US$100 juta. Michael optimistis, kinerja yang positif dan konsisten menjadi daya tarik produk ini dibandingkan dengan instrumen deposito dolar yang menawarkan bunga kurang dari 1% per tahun.

 

"Kami tetap kejar size. Dengan dana kelolaan US$100 juta, economic scale-nya tercapai, mudah-mudahan kami bisa turunkan biaya transaksi di pasar lintas negara yang menggunakan global custody dan sistem transfer uang secara global," imbuhnya.

 

Muhammad Hanif, Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, menuturkan bahwa Mandiri Global Sharia Equity Fund Dollar diluncurkan pada Agustus 2016. Namun, hingga akhir Januari 2017, dana kelolaan yang dihimpun baru sekitar US$10 juta.

 

Kebijakan investasi sejumlah investor institusi yang tidak boleh menempatkan dana dalam produk yang berinvestasi di luar negeri sempat disebut sebagai salah satu kendala yang menyebabkan minimnya minat terhadap produk ini.

 

"Produk ini 100% investasi di instrumen saham luar negeri yang sesuai ketentuan syariah. Perkembangan 2 minggu terakhir ini, dana kelolaan naik jadi sekitar US$32 juta. Ini suatu kabar yang baik untuk kami," ujarnya.

 

Head of Product Development Mandiri Manajemen Investasi Ari Adil menambahkan, kehadiran reksa dana saham syariah offshore itu memberikan alternatif bagi investor untuk mendiversifikasi risiko sekaligus mengantongi kinclongnya kinerja saham perusahaan global yang tercatat di bursa efek negara lain.

 

Hingga akhir Februari 2017, Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa menjadi tujuan utama alokasi investasi Mandiri Global Sharia Equity Fund Dollar. "Secara year to date, performance reksa dana ini hampir 4% dipengaruhi oleh bullish cycle di pasar modal AS. Produk ini jadi solusi investasi yang kami tawarkan tahun ini," ucapnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170310/441/635694/perolehan-nab-masih-seret