Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Meski Masih Tumbuh Lamban, Prospek Reksa Dana Indeks Tetap Menjanjikan

Monday, 27 February 2017


JAKARTA -  Kinerja indeks saham dalam dua bulan pertama tahun ini masih tidak terlalu istimewa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 1,68%. Sementara indeks LQ45 naik 1,27%. Jakarta Islamic Index (JII) malah cuma naik 0,83%.

 

Kinerja indeks yang terbilang biasa-biasa saja ini tentu mempengaruhi kinerja reksadana indeks. Rata-rata reksadana indeks cuma mencetak imbal hasil 1%. Tengok saja data kinerja reksadana indeks dari Infovesta Utama per 23 Februari 2017.

 

Senior Research Analyst Pasar Dana Beben Feri Wibowo mengatakan, indeks saham tahun ini memang tumbuh pelan. Hal ini membuat kinerja mayoritas reksadana indeks tidak terlalu agresif dan tumbuh dengan pelan. Lihat saja, sejak awal tahun hingga 23 Februari lalu, tidak terlalu banyak reksadana indeks yang bisa mencatatkan kinerja di atas 1%.

 

Faktor penyebab pelannya pertumbuhan kinerja indeks saham tahun ini yaitu adanya Trump effect di awal tahun. Sekadar mengingatkan, tidak jelasnya arah kebijakan Trump, terutama di bidang ekonomi, menimbulkan ketidakpastian di pasar dan membuat investor berhati-hati dalam menanamkan investasi.

 

Indeks saham juga tertekan oleh kondisi politik dari dalam negeri. Investor asing juga mencatat net sell.

"Oleh sebab itulah, kinerja pasar saham Indonesia tertinggal dibandingkan dengan indeks global lainnya," kata Beben.

 

Reksadana indeks adalah reksadana yang kinerjanya didesain menyamai pergerakan indeks acuan. Bila indeks acuannya mencetak kinerja bagus, otomatis reksadana indeks juga bisa mencetak return oke.

 

"Tahun lalu, ada indeks yang kinerjanya mengalahkan IHSG seperti Bisnis-27. Intinya tergantung kepada proyeksi dan fundamental masing-masing saham anggota indeks," ungkap Wawan Hendrayana, Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama.

 

Secara umum, Wawan bilang, jika portofolio reksadana tersebut berisi saham-saham blue chips, paling tidak kinerjanya akan menyamai IHSG. "Secara kinerja prospek tracking error-nya cukup kecil, dalam artian mirip dengan kinerja masing-masing indeks, jadi sesuai dengan tujuan awal," jelas dia.

 

Direktur Utama Indo Premier Investment Management (IPIM) Diah Sofiyanti mengakui reksadana indeks masih minim peminat. Tapi prospek reksadana ini sebenarnya menarik. Apalagi IHSG diprediksi bisa tumbuh 15%-20% sepanjang tahun ini.

 

"Jadi pertumbuhan indeks seperti LQ45 dan IDX30 diharapkan juga tumbuh kurang lebih sama dengan IHSG," ungkap Diah. Untuk produk Premier IDX 30 yang mengacu indeks IDX 30, strategi tracking error ditetapkan 0,05%.

 

Sedangkan Beben melihat, pasar saham dalam negeri tahun ini berpeluang tumbuh positif di kisaran 3%-4% untuk level moderat dan 9%-10% untuk level optimistis. Dengan demikian, return reksadana indeks diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan proyeksi kenaikan indeks tersebut.

 

Indeks bisa kembali menguat lantaran sentimen pemilihan kepala daerah (pilkada), khususnya di DKI Jakarta, mulai mereda. Ekonomi juga masih tumbuh, ditopang belanja rumah tangga dan program pembangunan infrastruktur pemerintah. Pilkada serentak pun berpeluang mendorong laju ekonomi, terutama di kuartal I-2017.

 

Namun, ketidakpastian kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kenaikan suku bunga The Fed dan perlambatan ekonomi Eropa dan Tiongkok masih menjadi tantangan ke depan. Demikian juga dengan fluktuasi nilai tukar rupiah dan laju inflasi dalam negeri.

 

Sumber : Kontan.co.id

http://investasi.kontan.co.id/news/prospek-reksadana-indeks-masih-oke