Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Dana Kelolaan Naik 6,9%, Produk Reksa Dana Syariah Kian Bergairah

Tuesday, 14 February 2017


JAKARTA — Awal 2017, industri reksa dana syariah cukup bergairah. Dana kelolaan produk reksa dana syariah naik 6,9% sepanjang Januari menjadi Rp15,94 triliun.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, komposisi dana kelolaan reksa dana yang mengusung prinsip syariah terdiri dari reksa dana syariah saham Rp8,34 triliun, syariah sukuk Rp237,7 miliar, syariah terproteksi Rp2,32 triliun, syariah pendapatan tetap Rp1,75 triliun, syariah campuran Rp1,09 triliun, syariah pasar uang Rp1,15 triliun, syariah indeks Rp296,12 miliar, dan syariah efek luar negeri Rp70,59 miliar.

 

Dana kelolaan reksa dana syariah naik Rp1,03 triliun dari Rp14,91 triliun pada akhir Desember 2016 menjadi Rp15,94 triliun. Tingkat pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah sebesar 6,9% melampaui kenaikan dana kelolaan seluruh reksa dana yang tercatat sebesar 4,28% menjadi Rp353,24 triliun akhir Januari lalu.

 

Dari sisi produk, OJK mencatat ada tambahan empat produk baru pada awal tahun ini menjadi total 139 produk reksa dana syariah.

 

Head Investment Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan reksa dana syariah berkembang dengan tren yang terus bertumbuh. Produk yang diproyeksi tumbuh paling progresif, yakni reksa dana saham syariah.

 

“Investor mulai mencari produk-produk alternatif untuk menempatkan dananya, reksa dana saham syariah growth-nya paling cepat. Kalau reksa dana pendapatan tetap pasokan underlying obligasi pemerintah dan korporasi yang syariah terbatas,” ucapnya ketika dihubungi, pekan lalu.

 

Kendati mengecualikan saham emiten fi nansial, emiten rokok, dan emiten dengan rasio utang terhadap ekuitas yang besar, kinerja reksa dana saham berpotensi ditopang oleh menghijaunya saham emiten sektor pertambangan, infrastruktur, dan konsumer.

 

Apalagi sepanjang tahun berjalan indeks sektoral industri dasar dan kimia tumbuh 5,91% dan pertambangan 2,58%, atau di atas indeks sektor fi nansial 2,18% year to date.

 

“Manajer investasi akan manfaatkan momentum untuk switch ke saham-saham basis tambang untuk rebalancing. Untuk gantikan bobot emiten bank, portofolio reksa dana saham syariah bisa diisi emiten konsumer dan ritel yang besar, seperti UNVR, ASII, INDF, jadi kinerjanya tidak ketinggalan,” ujarnya.

 

Kendati begitu, kinerja Jakarta Islamic Index masih tertinggal dari indeks harga saham gabungan. JII tercatat naik 1,07% year to date ke level 701,58 pada penutupan perdagangan Jumat (10/2), sedangkan IHSG tumbuh 1,42% ytd ke level 5.371,08. Namun, Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) naik 1,65% ytd ke level 174,91.

 

KOMODITAS BULLISH

 

Soni Wibowo, Direktur Bahana TCW Asset Management, menambahkan naiknya harga komoditas yang diikuti oleh terkereknya saham-saham emiten infrastruktur berpotensi membuat prospek positif terhadap kinerja reksa dana saham syariah.

 

“Namun mengingat kebijakan AS mengenai perdagangan tidak sebebas zaman sebelumnya, penguatan harga komoditas dipertanyakan sustainabilitynya,” ucap Soni.

 

Andre Varian, Fund Manager BNI Asset Management, menuturkan reksa dana saham syariah masih berpotensi membukukan kinerja yang bagus. Utamanya, apabila saham sektor perbankan mengalami underperform seperti yang terjadi pada tahun lalu.

 

Di sisi lain, Andre menilai ruang gerak reksa dana pendapatan tetap syariah dan reksa dana pasar uang syariah relatif terbatas lantaran pasokan efek yang minim dan kurang likuid.

 

Menurutnya, suplai deposito syariah dan sukuk, serta obligasi syariah yang tenornya kurang dari satu tahun relatif sedikit.

 

Underlying reksa dana pendapatan tetap syariah dan reksa dana pasar uang syariah masih menjadi kendala, sehingga portofolio manajer mengalami keterbatasan untuk melakukan manuver, seperti memperpanjang atau memperpendek durasi,” pungkasnya.

 

Fadilah Kartikasasi, Direktur Pasar Modal Syariah OJK, menuturkan otoritas pasar modal terus menajamkan program untuk mendorong perkembangan industri reksa dana syariah.

Pasalnya, saat ini pangsa pasar reksa dana syariah baru 4,5% dari total dana kelolaan industri reksa dana.

 

Menurutnya, OJK akan menggencarkan sosialisasi kepada manajer investasi, bank kustodian, dan wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD), maupun investor tentang reksa dana berbasis syariah.

 

“Sosialisasi khususnya terkait peraturan baru tentang penerapan prinsip syariah di manajer investasi. Sudah ada beberapa pihak yang berminat membentuk manajer investasi syariah (MIS) atau diwajibkan untuk membentuk unit pengelolaan investasi syariah pada tahun ini,” tuturnya.

 

Untuk sosialisasi kepada investor, lanjutnya, OJK fokus kepada investor institusional supaya berdampak signifi kan terhadap pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana berbasis syariah ini.

 

“Kami juga akan membekali WAPERD dengan workshop mengenai reksa dana syariah agar mereka lebih confident dalam memasarkan produk reksa dana syariah,” ucapnya.

 

Pengembangan industri reksa dana syariah juga bakal terdorong oleh pendirian kawasan ekonomi khusus Jakarta International Islamic Financial Center (JI-IFC) sebagai langkah awal menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170214/441/628573/produk-syariah-bergairah