Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Manajer Investasi Lakukan Rebalancing Portofolio Reksa Dana Indeks

Tuesday, 31 January 2017


JAKARTA — Sejumlah indeks yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami penyesuaian pada awal tahun ini. Manajer Investasi (MI) yang mengelola reksa dana indeks pun bersiap untuk melakukan rebalancing portofolio.

 

Indeks LQ45 dan indeks IDX30 menjadi indeks acuan yang paling banyak digunakan oleh reksa dana indeks. Dari delapan produk reksa dana indeks yang beredar di pasar, enam di antaranya menggunakan indeks acuan LQ45 dan IDX30.

 

Indeks LQ45 mengalami perubahan komposisi untuk periode Februari-Juli 2017. Tiga saham baru yang masuk dalam daftar saham paling likuid di Bursa, yakni PT Bumi Resources Tbk., PT XL Axiata Tbk., dan PT PP Properti Tbk. Sementara itu, saham PT Global Mediacom Tbk., PT Matahari Putra Prima Tbk., dan PT Siloam International Hospital Tbk. terdepak dari indeks LQ45.

 

Pada periode yang sama, anggota indeks IDX30 juga pengalami perubahan. Untuk periode Februari-Juli 2017, posisi PT Alam Sutera Realty Tbk. dan PT Surya Citra Media Tbk. dalam indeks IDX30 digantikan oleh PT PP Properti Tbk. dan PT Sri Rejeki Isman Tbk.

 

Kedua indeks tersebut memiliki kriteria yang hampir sama, yakni mewakili saham yang paling likuid di Bursa. IDX30 hanya memperkecil jumlah penghuni indeks LQ45 dari 45 saham menjadi 30 saham. Kapitalisasi pasar emiten yang masuk dalam dua indeks tersebut mencapai lebih dari 50% kapitalisasi Bursa Efek Indonesia.

 

Presiden Direktur PT RHB Asset Management Indonesia Rima Suhaimi  mengatakan, perubahan indeks LQ45 tidak berdampak signifikan terhadap reksa dana indeks. Pasalnya, saham-saham yang baru dimasukkan maupun dihapus dari indeks LQ45 memiliki kapitalisasi pasar yang tidak terlalu besar.

 

"Likuiditas dari saham-saham yang berubah pun cukup bagus sehingga akan cukup untuk menyerap transaksi pembobotan ulang dari Reksa Dana," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

 

Rima memaparkan, reksa dana tersebut didesain untuk mereplikasi kinerja indeks LQ45 dengan tracking error yang seminimal mungkin. Untuk itu, komposisi dan pembobotan efek disusun agar sedekat mungkin dengan Indeks LQ45 .

 

Lucky Bayu Purnomo, analis Danareksa Sekuritas, mengatakan perubahan komposisi indeks acuan akan diikuti oleh aksi rebalancing portofolio reksa dana oleh para manajer investasi.

 

"Awal Februari fund manager langsung rebalancing supaya mark to market. Kalau tidak, gap-nya besar. Karena pembobotannya beda, median rata-rata mengalami perubahan, jadi perlu adjustament," ujarnya.

 

Cocok bagi Ritel

 

Sementara itu, Direktur PG Asset Management Achfas Achsien mengatakan, reksa dana indeks cocok bagi investor ritel lantaran dapat mengantongi diversifikasi saham yang lebar dengan modal yang terbatas. Instrumen ini juga dapat menghemat biaya transaksi investor ritel dibandingkan dengan membeli satu per satu saham dalam indeks acuan secara langsung.

 

"Kami jaga supaya performa reksa dana indeks deltanya hampir satu, artinya naik turunnya sejalan dengan indeks acuannya," ujarnya.

 

Achfas menambahkan, tugas MI sebagai pengelola reksa dana indeks bukanlah untuk mengalahkan kinerja indeks acuan, melainkan mendekati kinerja indeks. Untuk itu, fund manager juga menjaga tracking error reksa dana agar tidak jauh dari indeks.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total dana kelolaan reksa dana indeks pada 30 Desember 2016 mencapai Rp601,59 miliar. Jumlah tersebut turun dibandingkan dengan akhir 2015 yang tercatat sekitar Rp810 miliar.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20170131/441/624336/mi-bersiap-rebalancing