Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Sepanjang 2016 Reksa Dana Campuran Cetak Return Tertinggi

Wednesday, 04 January 2017


JAKARTA - Di tengah volatilitas pasar saham dan obligasi sepanjang tahun lalu, reksa dana campuran membukukan kinerja paling kinclong dengan rerata tingkat pengembalian investasi atau return sebesar 9,29% atau tertinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

 

Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana menuturkan, tahun lalu pasar surat utang cukup baik pada semester I sehingga turut memberikan return terhadap reksa dana campuran karena mayoritas bobot paling besar pada surat utang.

 

Sementara pada semester II 2016 pasar saham mulai meningkat signifikan setelah pemerintah sukses melakukan program tax amnesty. Sebagian besar fund manager mengalihkan portofolionya ke instrumen saham.

 

“Dengan begitu, return reksa dana campuran bisa lebih tinggi dibandingkan dengan reksa dana lainnya,” tuturnya.

 

Kinerja reksa dana campuran itu tercermin lewat Infovesta Balance Fund Index yang naik dari level 5.389,82 pada akhir 2015 ke level 5.890,56 pada 30 Desember 2016. Kinerja itu lebih tinggi dibandingkan dengan indeks reksa dana saham dan pendapatan tetap.

 

Merujuk data Infovesta Utama, Infovesta Fixed Income Fund Index naik 8,02% sepanjang tahun lalu, sedangkan Infovesta Equity Fund Index terseret gejolak pasar saham dan hanya tumbuh 7,69%.

 

Capaian rata-rata kinerja reksa dana saham jauh di bawah indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mampu mencatatkan kenaikan sebesar 15,32% ke level 5.296,72 pada penutupan perdagangan tahun lalu. Adapun kinerja reksa dana berbasis obligasi sejalan dengan pergerakan indeks obligasi pemerintah dan korporasi yang masing-masing naik 10,36% dan 9,62%.

 

Jemmy menjelaskan, reksa dana saham berpotensi membukukan kinerja yang lebih kinclong pada tahun ini. Alasannya, pasar obligasi domestik mengalami tekanan akibat spekulasi kenaikan The Fed Fund Rate hingga tiga kali pada 2017.

 

"Tahun ini kami ekspektasi reksa dana saham bisa naik 20%, reksa dana campuran 15%," ungkapnya.

 

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menambahkan, kinerja reksa dana pada 2017 akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar yang diproyeksi masih fluktuatif. Salah satu indikator ekonomi yang menjadi perhatian pada tahun ini, yakni tingkat inflasi yang diproyeksi lebih tinggi dari capaian tahun ini sebesar 3,02%.

"Kemudian kinerja perusahaan pada 2017 apakah bisa menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang lebih baik atau tidak. Namun, melihat kondisi pasar yang volatil dalam 2-3 tahun terakhir, kenaikan harga saham akan banyak digunakan untuk profit taking," paparnya.

 

Investor yang berminat untuk mengoleksi reksa dana berbasis saham dapat memilih produk reksa dana saham yang portofolionya dikelola secara aktif oleh MI, reksa dana indeks atau ETF yang mengacu pada indeks tertentu, maupun reksa dana saham tematik, seperti reksa dana berbasis konsumer atau infrastruktur. 

 

Sumber : Bisnis Indonesia/Investor Daily