Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Dana Repatriasi Amnesti Pajak Mulai Mengalir ke Produk Reksa Dana

Thursday, 01 December 2016


JAKARTA — Aliran dana repatriasi program amnesti pajak mulai mengalir ke manajer investasi yang ditunjuk sebagai gateway. Jumlahnya masih relatif kecil dan mayoritas investor enggan mengonversi dananya ke mata uang rupiah.

 

Program amnesti pajak telah bergulir selama lima bulan. Nilai harta yang kembali ke Indonesia atau repatriasi mencapai Rp143 triliun dan deklarasi luar negeri Rp986 triliun. Mayoritas dana repatriasi masih mengendap di perbankan, sedangkan deklarasi luar negeri paling lambat masuk ke Indonesia pada akhir tahun ini. 

 

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Muhammad Hanif mengatakan, dana amnesti pajak yang masuk ke perusahaan aset manajemen ini baru mencapai US$12 juta-US$13 juta.

"Bentuknya investasi surat utang denominasi dolar AS. Mereka prefer denominasi dolar AS, tidak mau convert ke rupiah," kata Hanif, Rabu (30/11).

 

Menurutnya, langkah tersebut dipilih untuk menghindari risiko selisih kurs saat berakhirnya masa lock up dana repatriasi selama tiga tahun. "Mereka kan uangnya memang dalam dolar, kalau diubah ke rupiah nanti mereka setelah lock up tiga tahun selesai, mereka ada currency risk," imbuhnya.

 

Selain itu, Mandiri Investasi juga telah menandatangani sejumlah kontrak pengelolaan dana terkait program amnesti pajak. Namun, dananya belum masuk ke perusahaan manajer investasi pelat merah ini.

 

"Size-nya lumayan besar, saya belum bisa sampaikan. Kalau bisa Rp600 miliar-Rp700 miliar, kami sudah happy," tuturnya.

 

Hanif menambahkan peserta amnesti pajak juga ada yang berminat masuk ke produk reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Perusahaan tujuan investasi tersebut, yakni perusahaan yang terafiliasi dengan wajib pajak peserta tax amnesty.

 

Tak hanya Mandiri Manajemen Investasi, Syailendra Capital juga mulai menampung dana amnesti pajak. Direktur Operasional Syailendra Capital Gunanta Afrima mengatakan dana repatriasi tersebut masuk lewat kontrak pengelolaan dana (KPD).

 

"Jumlahnya tidak signifikan. Tapi kami juga sedang bicara dengan beberapa calon klien," ujarnya.

 

Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menuturkan dana repatriasi tax amnesty sudah ada yang masuk ke anak usaha Panin Sekuritas ini. Produk yang menjadi pilihan peserta amnesti pajak, antara lain KPD, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham.

 

"Yang masuk semua dalam mata uang rupiah. Sudah dikonversi saat masuk bank gateway, jadi saat masuk reksa dana hampir pasti denominasinya rupiah," kata Rudiyanto.

 

Menurutnya, dana repatriasi dalam denominasi dolar AS banyak yang disimpan dalam instrumen deposito dolar dan obligasi valas yang diterbitkan pemerintah Indonesia.

 

"Pelaku industri pasar modal tidak bisa menerima dana repatriasi langsung. Yang akan sibuk akhir Desember seharusnya bank, baru masuk pelan-pelan ke pasar modal dalam tiga tahun ke depan," paparnya.

 

Anggota Kompartemen Sosial dan Edukasi APRDI ini memproyeksi arus dana dari luar negeri akan cukup deras jelang tutup tahun.

 

Sementara itu, Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P. Lubis mengatakan program amnesti pajak mulai menghasilkan proyek-proyek anyar untuk manajer investasi. Dalam pipeline Bahana TCW, lanjutnya, ada dua produk RDPT yang sedang diproses izinnya ke OJK.

 

"Pipeline ada dua RDPT invest di proyek pelabuhan dan transportasi. Size total mudah-mudahan Rp2 triliun," kata Edward, Jumat (18/11).

 

Edward memaparkan, RDPT tersebut terdiri dari denominasi rupiah dan dolar AS. Namun, dia belum mengungkap nama perusahaan yang menjadi target investasi RDPT.‎

 

"Keduanya perusahaan swasta. Yang infrastruktur mudah-mudahan bulan ini sudah bisa diluncurkan. Yang satu lagi baru kami proses izin OJK-nya bulan depan," tuturnya.

 

Menurutnya, minat investor peserta tax amnesty untuk masuk ke RDPT cukup besar. Berbeda dengan produk kontrak pengelolaan dana (KPD) yang masih didominasi oleh klien lama.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161201/441/607906/dana-mulai-mengalir-ke-mi