Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Banjir Produk Reksadana Baru Syariah

Wednesday, 30 November 2016


JAKARTA — Dana kelolaan reksa dana syariah yang tumbuh tipis tidak menyurutkan minat manajer investasi untuk terus meluncurkan produk-produk baru. Mayoritas produk reksa dana syariah yang baru meluncur tahun ini adalah jenis reksa dana saham.

 

Sepanjang tahun berjalan ini, Otoritas Jasa Keuangan mencatat ada 34 produk reksa dana syariah anyar, penambahan terbanyak dalam enam tahun terakhir.

 

Berdasarkan data OJK, ada 126 reksa dana syariah yang beredar di pasar hingga 18 November 2016. Sepanjang tahun ini, ada 33 produk reksa dana syariah baru yang diluncurkan oleh perusahaan manajer investasi.

 

Jumlah tersebut jauh melampaui tambahan produk baru reksa dana syariah sepanjang tahun lalu yang mencapai 19 produk. Bahkan dalam periode 2010-2014, jumlah produk reksa dana syariah hanya bertambah 7-12 produk per tahun.

 

Dari sisi dana kelolaan, nilai aktiva bersih reksa dana syariah nasional mencapai Rp12,05 triliun hingga medio November 2016. Dana kelolaan industri itu hanya tumbuh tipis dibandingkan dengan capaian akhir 2014 dan 2015 yang masing-masing tercatat sebesar Rp11,23 triliun dan Rp11,02 triliun.

 

Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P. Lubis mengatakan, pangsa pasar reksa dana syariah terhadap total industri masih rendah, yakni hanya 3,72% dari sisi dana kelolaan dan 9,03% dari sisi jumlah produk. Kondisi itu, lanjutnya, disebabkan oleh faktor permintaan investor dan pasokan dari para manajer investasi. 

 

Menurut Edward, rendahnya permintaan terhadap produk reksa dana syariah disebabkan oleh siklus kinerja saham syariah di lantai bursa. Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia ini memaparkan, kinerja indeks saham syariah relatif tertinggal ketika ekonomi sedang bagus. Pasalnya, indeks saham syariah tidak mencakup saham-saham emiten perbankan yang kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar 30% dari total kapitalisasi BEI.

 

"Seolah-olah kinerja indeks syariah ketinggalan. Tetapi dalam dua tahun terakhir, saat bank lagi susah, suku bunga turun, banyak risiko NPL, ekonomi lesu, indeks syariah tumbuh bagus terdorong sektor tambang dan komoditas. Perlu pengenalan karakteristik saham syariah kepada investor," tuturnya.

 

Dari sisi pasokan, kata Edward, manajer investasi harus membentuk citra reksa dana syariah seperti produk-produk reksa dana konvensional. Dengan begitu, reksa dana syariah tidak dianggap sebagai instrumen investasi tematik yang memiliki lingkup investor yang terbatas.

 

"Syariah itu konsep screening. Reksa dana syariah harus bisa bertarung dengan konvensional, sehingga bisa jadi alternatif investasi bagi investor yang lebih luas," paparnya.

 

Edward menambahkan, tidak diperlukan regulasi khusus untuk mendorong perkembangan reksa dana syariah di Indonesia. Yang terpenting, lanjutnya, pelaku industri mempertajam branding dan memperluas basis investor.

 

Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi menuturkan, otoritas terus merancang regulasi untuk mendukung perkembangan industri investasi syariah di Indonesia. Salah satunya melalui penerbitan POJK No. 30/2016 tentang Dana Investasi Real Estat Syariah Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. Selain itu, OJK sedang menyusun beleid soal Penerapan Prinsip Syariah Pada Manajer Investasi yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.

 

Fadilah menambahkan seiring dengan penerbitan Daftar Efek Syariah (DES) periode II/2016, perusahaan manajer investasi selaku pengelola portofolio akan secara aktif melakukan penyesuaian efek saham yang masuk dalam produk reksa dana syariah. Untuk menjaga ketentuan syariah, saham-saham yang terlempar dari DES wajib dikeluarkan dari portofolio dan digantikan oleh saham-saham baru penghuni DES.

 

Berdasarkan Kep-56/D.04/2016 tanggal 24 November 2016 tentang Daftar Efek Syariah yang berlaku mulai Desember 2016-Mei 2017, ada 354 efek saham perusahaan terbuka dan emiten yang masuk dalam DES. Dibandingkan dengan DES periode I/2016, ada 31 efek saham baru dan 11 efek saham yang keluar.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161130/441/607512/banjir-produk-baru-syariah