Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Dollar Menguat, Reksa Dana Syariah Offshore Moncer

Friday, 25 November 2016


JAKARTA — Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat dan pasar saham sejumlah negara maju berpeluang mendongkrak kinerja produk reksa dana saham syariah yang berinvestasi pada efek saham di luar negeri.

 

Alfred Rinaldi Triestanto, Chief Marketing Officer Eastspring Investments Indonesia, menuturkan kebijakan investasi produk reksadananya merujuk pada indeks acuan Dow Jones Asia Pacific Sharia.

 

"Investasinya di 10 negara Asia Pasifik, mayoritas Jepang, Hong Kong, Thailand, Malaysia, India, Filipina, dan Australia, termasuk Indonesia juga. Jadi memang bisa diversifikasi potensi dan risiko di berbagai bursa Asia Pasifik," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (24/11).

 

Menurut Alfred, kawasan Asia Pasifik dipilih lantaran memiliki potensi yang besar dalam jangka panjang. Potensi tersebut dinilai lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju dan AS yang bertendensi untuk menerapkan kebijakan ekonomi proteksionisme setelah terpilihnya Trump.

 

"Currency risk-nya juga terdiversifikasi. Tidak selalu rugi kurs, bisa juga untung kurs di samping dari capital gain kenaikan harga saham," imbuhnya.

 

Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P. Lubis menuturkan, suksesi Donald Trump sebagai Presiden AS berikutnya menimbulkan volatilitas di pasar modal dunia. Salah satu akibat yang muncul, yakni pergeseran aliran dana investor asing dari emerging market menuju negara maju.

 

"Ada ketertarikan investor pindah ke non emerging market dulu. Jadi kami dorong produk reksa dana syariah offshore yang investasi di bursa luar negeri," tutur Edward baru-baru ini.

 

POSITIF

 

Sigit Pratama Wiryadi, Direktur Utama Aberdeen Asset Management, mengatakan sambutan investor terhadap produk reksa dana saham syariah offshore cukup positif. Tidak hanya investor di Jakarta yang tertarik untuk berinvestasi pada produk ini, tetapi juga investor di Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Medan.

 

"Nasabah melihat prospek dari investasi yang kami tanamkan di perusahaan-perusahaan luar negeri sangat menarik. Saat ini, dana kelolaannya sekitar USS$4 juta-US$5 juta," kata Sigit, Rabu (23/11).

 

Analis Infovesta Utama Wawan Hendrayana berpendapat reksa dana saham offshore dapat menjadi alternatif diversifikasi terhadap produk reksa dana yang berinvestasi di dalam negeri. Apalagi dalam sebulan terakhir, bursa saham Indonesia cenderung tertekan. Indeks harga saham gabungan merosot 3,48% dalam satu bulan ke level 5.211,99 pada penutupan perdagangan Rabu (23/11).

 

"Terutama untuk reksa dana offshore yang fokus di bursa Amerika yang sedang menunggu langkah kebijakan ekonomi Trump," kata Wawan, Rabu (23/11).

 

Menurutnya, potensi membaiknya kinerja reksa dana saham syariah offshore cukup terbuka. Utamanya, akibat menguatnya nilai tukar dolar AS dan harapan naiknya harga minyak setelah kesepakatan OPEC yang berimbas ke harga komoditas.

 

Kendati begitu, rencana kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun ini masih menjadi katalis negatif bagi bursa saham di Negeri Paman Sam.

 

Dalam satu bulan terakhir, tiga bursa saham di AS menghijau. Indeks Dow Jones naik 4,7%, Indeks S&P 500 tumbuh 2,79%, dan Indeks Nasdaq tercatat naik 1,95% secara bulanan.

 

Sementara itu, indeks FTSE 100 London naik 0,65% dalam satu minggu terakhir, indeks Strait Times tumbuh 1,51% dalam seminggu terakhir, dan indeks Nikkei 225 Tokyo naik 5,39% dalam satu bulan terakhir.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161125/441/606145/reksa-dana-syariah-offshore-moncer