Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Ketika IHSG Jatuh, Manajer Investasi Koleksi Blue Chip

Tuesday, 15 November 2016


JAKARTA — Seiring dengan tajamnya penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG), manajer investasi berminat untuk mengoleksi saham-saham blue chip yang sudah ditransaksikan di bawah harga wajarnya.

 

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menuturkan anjloknya IHSG dalam dua hari terakhir tidak serta merta mendorong perusahaan manajer investasi merombak portofolionya.

 

"Tidak ada perubahan strategi investasi. Kami secara aktif melihat saham-saham yang sudah ditransaksikan di bawah harga wajar untuk kami koleksi," kata Rudiyanto ketika dihubungi Bisnis, Senin (14/11).

 

Menurutnya, efek terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat menggantikan Barack Obama dan wacana kenaikan suku bunga AS terhadap pasar modal Indonesia hanya bersifat sementara. "Penurunan ini bisa menjadi kesempatan untuk berinvestasi," imbuhnya.

 

Dari sisi investor, Rudiyanto menuturkan sudah cukup banyak investor yang memanfaatkan momentum koreksi IHSG untuk menambah unit penyertaan reksa dana saham. Kendati begitu, sebagian masih menunggu perkembangan politik di dalam negeri.

 

Berdasarkan data Infovesta Utama, seluruh produk reksa dana saham membukukan return negatif ada penutupan perdagangan Jumat (11/11). Saat IHSG terkoreksi 4,01% ke level 5.231,97, kinerja reksa dana saham tertekan pada kisaran -0,35% hingga -5,76% secara harian.

 

Sementara itu, Investment Specialist BNI Asset Management Akuntino Mandhany mengatakan, kinerja reksa dana saham terkoreksi cukup dalam akibat melorotnya IHSG. Dalam kondisi tersebut, MI diproyeksi menggulirkan strategi indexing atau menyusun portofolio untuk mendekati kinerja indeks acuan.

 

"Justru jangan melepas big cap walaupun valuasinya jadi murah. Karena kalau market rebound, reksa dana akan ketinggalan. Saat pasar berbalik positif yang akan diburu duluan itu pasti big cap," tuturnya.

 

Menurut Akuntino, indexing dapat dilakukan dengan mengoleksi 50 saham dengan kapitalisasi terbesar di lantai bursa. Setelah gejolak pasar mereda, lanjutnya, MI dapat balik ke strategi masing-masing.

 

MOMENTUM

 

Di sisi investor, Akuntino menilai momentum koreksi IHSG dapat dimanfaatkan untuk menambah unit penyertaan reksa dana saham (top up). Namun, langkah tersebut kembali ke durasi investasi investor apakah jangka panjang atau jangka pendek.

 

"Kalau saham harusnya appetite jangka panjang. Kondisi ini bisa jadi momentum top up pelan-pelan," pungkasnya.

 

Sementara itu, analis Pasardana Beben Feri Wibowo mengatakan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih baik. Nilai tukar rupiah yang sempat terpuruk pun telah kembali ke posisi yang relatif stabil pada kisaran Rp13.300 per dolar AS.

 

"Pelemahan IHSG memunculkan peluang bagi manajer investasi untuk mengakumulasi saham-saham, terutama blue chip di harga yang relatif lebih rendah," ujarnya.

 

Dengan memborong blue chip, lanjutnya, kinerja reksa dana akan rebound saat pasar modal merangkak naik. Menurut Beben, aksi window dressing bakal mendorong potensi upside IHSG pada akhir tahun ini.

 

Senada dengan Akuntino, Beben menilai investor reksa dana saham memiliki peluang untuk top up secara bertahap. Utamanya bagi investor ritel yang memiliki horizon investasi jangka panjang.

 

Adapun investor institusi yang memiliki profil risiko moderat dapat mengalihkan portofolio investasinya ke instrumen reksa dana yang konservatif, seperti reksa dana pasar uang guna menghadapi tutup buku akhir tahun.

 

Selain itu, investor institusi seperti lembaga jasa keuangan non bank dapat mengalihkan dananya ke reksa dana pendapatan tetap untuk memenuhi POJK No.1/2016 tentang kepemilikan SBN minimal 20% pada akhir tahun ini.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161115/441/602552/mi-koleksi-blue-chip