Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Produk RDPT Berbasis Saham Nonlisted Dinanti

Monday, 14 November 2016


JAKARTA — Pilihan produk investasi bagi investor institusi terus berkembang. Salah satu yang sedang ditunggu investor berupa reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berbasis saham  milik perusahaan privat alias nonlisted.

 

Sejak Desember 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melarang manajer investasi untuk meracik produk kontrak investasi kolektif RDPT berbasis saham emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia.

 

Dalam Peraturan OJK N0.37/2014, OJK menegaskan RDPT hanya dapat melakukan investasi pada dua hal, yakni efek bersifat utang yang ditawarkan tidak melalui penawaran umum dan efek bersifat ekuitas yang diterbitkan oleh perusahaan yang bukan perusahaan terbuka.

 

Setelah aturan itu bergulir, cukup banyak produk RDPT fixed income yang meluncur di pasar. Setidaknya ada 11 produk RDPT berbasis surat utang jangka pendek (MTN) yang mengantongi izin efektif dari OJK sepanjang tahun ini. Di antaranya, yakni RDPT PNM Perumnas 2016.Di sisi lain, belum banyak MI yang merancang produk RDPT dengan underlying saham perusahaan nonlisted.

 

Prihatmo Hari Mulyanto, Direktur Utama Danareksa Investment Management, menuturkan struktur produk tersebut lebih rumit dibandingkan dengan RDPT fixed income. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan oleh MI untuk meracik produk tersebut relatif lebih lama.

 

"RDPT equity structured lebih complicated. Kami masih proses produknya," ujar Prihatomo ketika dihubungi Bisnis, Kamis (10/11).

 

Produk RDPT equity yang sedang dirancang MI pelat merah ini terkait dengan sektor perumahan rakyat. Pasalnya, Danareksa Investment Management bekerja sama dengan Perum Perumnas (Persero) untuk menerbitkan RDPT ekuitas dengan target dana kelolaan sebesar Rp2 triliun.

 

Menurut Prihatmo, dana investor dihimpun lewat RDPT Perumahan Rakyat akan diinvestasikan pada saham perusahaan nonlisted yang berada di bawah Perum Perumnas (Persero). Selanjutnya, dana tersebut akan digunakan untuk membangun proyek PT SPC Proyek Rusunami Perumnas-BPJS Ketenagakerjaan.

 

"Suku bunga kan sekarang lagi turun, jadi banyak investor yang mengejar RDPT. Apalagi ini proyeknya milik keluarga BUMN," imbuhnya.

 

Selain itu, Mandiri Manajemen Investasi juga sedang mematangkan RDPT Pembangkit Listrik senilai Rp350 miliar dan Nikko Securities merampungkan izin RDPT energi baru terbarukan tenaga panel surya senilai total Rp1 triliun.

 

"Kami masih tunggu karena harga listrik yang sudah dipatok pemerintah belum dibeli oleh PLN. Jadi RDPT belum jalan. Selain itu ada masalah perizinan juga," ucap Direktur Utama Nikko Securities Harianto Solichin. 

 

 IMBAL HASIL

 

 Direktur Keuangan dan Investasi Asabri Hari Setianto mengatakan, investor institusi menunggu instrumen RDPT ekuitas sebagai wadah investasi baru. Berbeda dengan RDPT berbasis MTN yang memberikan imbal hasil tetap secara tahunan, instrumen RDPT ekuitas dinilai punya potensi imbal hasil yang lebih besar.

 

"RDPT equity ini banyak yang tunggu. Kalau investor institusi semi sovereign fund, seperti Asabri, BPJS masuk, perusahaan private equity maupun sovereign fund luar juga mau masuk," tuturnya.

 

Dari kacamata investor, imbuhnya, kehadiran produk RDPT equity mempermudah investor dalam menempatkan dana pada perusahaan yang prospektif. Pasalnya, kewajiban untuk menganalisis prospek usaha hingga kinerja keuangan sudah diwakilkan oleh pihak MI sebagai penerbit RDPT.

 

Perwakilan dari MI yang meluncurkan RDPT equity akan masuk jajaran direksi atau komisaris perusahaan target. Pasalnya, porsi minimal saham yang digenggam RDPT mencapai 51%. Dengan begitu, kinerja perseroan dapat dimonitor sehingga membuat investor merasa aman.

 

Dari sisi profitabilitas, lanjutnya, investor RDPT equity berpotensi mendulang cuan dari pembagian dividen dari laba perusahaan, kenaikan valuasi perusahaan, hingga capital gain dari penawaran saham perdana di pasar modal sebagai salah satu opsi exit strategy RDPT ini.

 

Hari mencontohkan investor akan mengantongi untung yang lumayan apabila saat menggelar IPO, perusahaan target memiliki tingkat price earnings (PE) sebesar 7-8 kali.

 

Tak hanya Asabri, BPJS Ketenagakerjaan pun tertarik untuk berinvestasi dalam instrumen RDPT ekuitas. Khususnya, RDPT yang dananya akan dikucurkan untuk proyek pembangunan perumahan pekerja.

 

“Sudah ada beberapa manajer investasi yang berinisiatif membuat instrumen RDPT perumahan ini,” kata Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto.

 

Direktur Utama Taspen Iqbal Latanro pun berminat untuk menggulirkan investasi dalam produk RDPT. "Kami menganggap itu baik, kontrolnya baik, berbagai risiko fund manager dan sekuritasnya juga baik, ke depan menurut saya itu produk yang sangat menarik,” katanya.

 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total produk RDPT yang aktif mencapai 63 produk hingga awal Agustus 2016. Nilai aktiva bersih (NAB) RDPT tersebut mencapai Rp20,47 triliun. 

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161114/441/602131/saham-nonlisted-dinanti