Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Borong SBN, Manajer Investasi Ketiban Berkah

Thursday, 13 October 2016


JAKARTA — Reksa dana terus memborong surat berharga negara (SBN) dan menambah kepemilikan pada instrumen SBN yang dapat diperdagangkan. Sepanjang tahun berjalan, kepemilikan reksa dana dalam SBN mencetak rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan tambahan senilai Rp18,49 triliun menjadi lebih dari Rp80 triliun.

 

Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan SBN oleh reksa dana mencapai Rp47,22 triliun pada 2011. Lantas, nilainya turun Rp4,03 triliun menjadi Rp43,19 triliun pada 2012 dan menciut Rp690 miliar menjadi Rp42,5 triliun pada akhir 2013.

 

Tren itu berbalik pada periode 2014-2015. Kepemilikan reksa dana dalam SBN tradeable naik menjadi Rp45,79 triliun pada 2014. Kenaikan drastis terjadi sepanjang 2015. Pada akhir 2015, reksa dana menggenggam SBN senilai Rp61,6 triliun atau melonjak Rp15,81 triliun sepanjang Januari-Desember tahun lalu.

 

Namun, capaian sepanjang Januari-September tahun ini melampaui rekor tersebut. Hingga kuartal III/2016, reksa dana menambah kepemilikan SBN sebesar Rp18,49 triliun, terdiri dari Surat Utang Negara Rp12,4 triliun dan Sukuk Negara Rp6,08 triliun.

 

Kepemilikan reksa dana dalam SUN naik 21,92% dan Sukuk naik 120,63% secara year to date. Dengan tambahan tersebut, nilai kepemilikan SBN oleh MI tercatat sebesar Rp80,09 triliun pada Selasa (11/10). Kendati nominal nya telah menembus Rp80 triliun, porsi kepemilikan reksa dana dalam SBN tradeable masih terbilang mini, yakni hanya 4,21%. Lebih kecil dibandingkan dengan kepemilikan asing (38,94%), asuransi (13,10%), dan dana pensiun (4,7%). 

 

Beben Feri Wibowo, analis Pasardana, menuturkan pertumbuhan kepemilikan SBN oleh reksa dana dipicu oleh kewajiban industri keuangan nonbank untuk menempatkan 20%- 30% investasinya pada instrumen obligasi pemerintah. Kewajiban tersebut tertuang dalam Peraturan OJK No.1/2016 yang terbit awal tahun ini.

 

Dalam aturan tersebut, reksa dana berbasis obligasi negara juga diakui sebagai kepemilikan SBN. Tak hanya itu, pasar obligasi yang relatif bullish sejak 2015 membuat investor semakin melirik instrumen ini sebagai alternatif investasi yang berpotensi memberikan imbal hasil yang lumayan dengan tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan saham.

 

Apalagi sejak awal tahun, suku bunga bank cenderung turun dan nilai tukar rupiah menguat. “Banyak IKNB yang cari, jadi manajer investasi beli untuk dijadikan underlying produk rek sa dana pendapatan tetap atau reksa dana ter proteksi,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (12/10).

 

Kepemilikan SBN melalui reksa dana dinilai memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan pembelian obligasi secara langsung di pasar sekunder oleh perusahaan asuransi atau dana pensiun.

 

Pasalnya, pasar obligasi sedang dalam kondisi premium dengan tingkat yield rendah dan harga tinggi. Hanif Mantiq, Head of Investment BNI Asset Management, mengatakan POJK No.1/2016 mendorong penerbitan sejumlah produk baru, antara lain tiga produk reksa dana pendapatan tetap dan beberapa reksa dana terproteksi.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161013/441/592055/mi-ketiban-berkah