Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Dana Kelolaan September Susut Jadi Rp306 Triliun

Wednesday, 05 October 2016


JAKARTA — Dana kelolaan reksa dana berdenominasi rupiah menyusut 2,14% sepanjang September 2016 menjadi Rp306,17 triliun, dipicu oleh aksi ambil untung investor.

 

Berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana Otoritas Jasa Keuangan, sepanjang Januari-September 2016, dana kelolaan reksa dana telah tumbuh Rp46,68 triliun atau 17,98% dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu Rp259,49 triliun. Jumlah tersebut belum termasuk dana kelolaan reksa dana berdenominasi valas.

 

Sejak Januari 2016, nilai aktiva bersih bergerak positif hingga membentuk nominal tertinggi sebesar Rp312,89 triliun pada Agustus 2016. Namun, NAB reksa dana yang dibukukan pada akhir bulan lalu menciut 2,14% menjadi Rp306,17 triliun.

 

Secara total, reksa dana yang membukukan NAB paling besar adalah reksa dana saham. Hingga akhir September 2016, nilainya mencapai Rp99,48 triliun. Posisi selanjutnya, reksa dana terproteksi Rp74,04 triliun, reksa dana pendapatan tetap Rp72,11 triliun, reksa dana pasar uang Rp29,68 triliun, dan reksa dana campuran Rp24,79 triliun.

 

Adapun NAB reksa dana syariah tercatat mencapai Rp11,68 triliun, reksa dana yang dapat diperdagangkan (exchange-traded fund/ETF) Rp5,49 triliun, dan reksa dana indeks Rp508 miliar.

 

Vivian Secakusuma, Presiden Direktur BNP Paribas Investment Partners, mengatakan total dana kelolaan pada bulan lalu relatif stabil pada kisaran Rp31,88 triliun. Namun, NAB reksa dana rupiah cenderung menyusut.

 

Berdasarkan data OJK, pada akhir Januari 2016 dana kelolaan reksa dana BNP Paribas Investment Partners mencapai Rp21,5 triliun. Namun, pada Agustus dan September 2016, nilainya terkikis menjadi Rp19,85 triliun dan Rp19,18 triliun.

 

"Kalau market lagi naik, biasanya nasabah ambil profit. Nanti masuk lagi saat rendah. Secara umum, dana kelolaan kami relatif stabil di sekitar Rp32 triliun," ucapnya, Selasa (4/10).

 

Jenis reksa dana yang dana kelolaannya berkembang paling pesat, imbuhnya, adalah reksa dana saham. Pasalnya, sepanjang tahun berjalan indeks harga saham gabungan (IHSG) telah naik 19,14% ke level 5.472,317 pada penutupan perdagangan Selasa (4/10).

 

AMNESTI PAJAK

 

Vivian menambahkan suksesnya amnesti pajak tahap I merupakan sentimen positif bagi pasar modal. Salah satu manajer investasi gateway ini siap menampung dana repatriasi ke dalam 16 produk reksa dana yang sudah ada. Selain itu, BNP Paribas IP juga terbuka untuk membentuk kontrak pengelolaan dana berbasis saham apabila ada permintaan dari peserta amnesti pajak.

 

"Kami terbuka untuk membuat produk yang dibutuhkan tax amnesty. Dari pembicaraan dengan calon investor mereka tertarik masuk reksa dana obligasi dan reksa dana terproteksi. Tetapi realisasinya belum kelihatan," imbuh Vivian.

 

Sigit Wiryadi, Presiden Direktur Aberdeen Asset Management, mengatakan melandainya dana kelolaan sepanjang beberapa bulan terakhir sejalan dengan perubahan strategi perusahaan yang fokus pada investasi jangka panjang. Aberdeen tidak lagi menerbitkan produk-produk terproteksi yang mampu menyerap dana cukup besar, tetapi biasanya bertenor pendek.

 

Mengutip data OJK, dana kelolaan reksa dana rupiah Aberdeen Asset Management mencapai Rp716,17 miliar pada akhir September 2016. Jumlah tersebut berangsur-angsur turun dari Januari 2015 sebesar Rp1,52 triliun, menjadi Rp946,48 miliar pada Juni 2015, dan Rp894,94 miliar pada akhir tahun lalu.

 

Di sisi lain, manajer investasi yang fokus pada produk-produk ETF justru membukukan kenaikan dana kelolaan. Direktur Utama Indopremier Investment Diah Sofiyanti mengatakan hingga akhir September, dana kelolaan yang dihimpun mencapai Rp4,4 triliun.

 

"Akhir tahun lalu kami tutup Rp3,8 triliun, jadi AUM naik sekitar 22% sepanjang tahun ini. Kami masih punya PR mengejar target Rp5 triliun," ujarnya.

 

Diah menambahkan produk yang menopang pertumbuhan dana kelolaan pada tahun ini adalah Premier ETF Indonesia State Owned Companies. Produk itu mampu mengantongi dana kelolaan sebesar Rp1,2 triliun dalam satu tahun sejak diluncurkan.

 

"Ternyata ETF itu disambut pasar. Terutama karena strateginya sangat strong dan sesuai dengan kondisi ekonomi dan program pemerintah untuk pembangunan infrastruktur," imbuhnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

http://koran.bisnis.com/read/20161005/441/589557/reksa-dana-rupiah-dana-kelolaan-september-susut-