Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Kinerja Dana Kelolaan RDPT Masih Paling Unggul

Wednesday, 31 August 2016


JAKARTA— Reksa dana pendapatan tetap mencatatkan pertumbuhan yang signifikan sepanjang tahun berjalan. Jumlah reksa dana pendapatan tetap bertambah 32 produk dan dana kelolaan naik Rp19,19 triliun menjadi Rp67,7 triliun hingga 8 Agustus 2016.

 

Berdasarkan data yang di himpun Bisnis,, jumlah produk reksa dana pendapatan tetap yang telah mendapat izin efektif Otoritas Jasa Keuangan bertambah dari 157 produk pada akhir 2015 menjadi 189 produk.

 

Sepanjang Juli-Agustus 2016 saja, Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatatkan 11 produk baru yang mengantongi izin OJK. Produk tersebut antara lain diluncur kan oleh Quant Kapital Investama, First State Investments Indonesia, Sequis Aset Manajemen, Trimegah Asset Management, dan Aberdeen Asset Management.

 

Di sisi dana kelolaan, reksa dana pendapatan tetap membukukan pertumbuhan tertinggi dibandingkan jenis reksa dana lain, yakni 39,55% sepanjang Januari-8 Agustus 2016. Hingga akhir Juli 2016, capaian kinerja reksa dana pendapatan tetap rerata 10,17%.

 

Desmon Silitonga, analis Capital Asset Management, menuturkan besarnya minat manajer investasi untuk menerbitkan produk reksa dana pendapatan tetap terdorong oleh Peraturan OJK No.1/2016 tentang kewajiban investasi Surat Berharga Negara oleh lembaga keuangan nonbank.

"Kalau asuransi dan dapen langsung masuk ke SBN agak sulit, makanya diserahkan ke MI yang membungkus SBN jadi produk reksa dana pendapatan tetap," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (29/8/2016).

 

Maraknya penerbitan reksa dana fixed income baru, lanjutnya, bertolak belakang dengan kondisi lima tahun terakhir. Pada periode tersebut, Manajer Investasi tidak terlalu agresif membuat produk reksa dana pendapatan tetap dan memilih struktur terproteksi.

 

Kemunculan produk-produk reksa dana pendapatan tetap baru bakal membutuhkan pasokan produk obligasi pemerintah dan obligasi korporasi yang akan dijadikan aset dalam portofolio investasi.

 

Namun, suplai SBN lewat lelang diproyeksi semakin terbatas pada semester II/2016. Sebelumnya, Kementerian Keuangan berencana menambah penerbitan SBN gross sekitar Rp17 triliun menjadi total Rp628 triliun pada ta hun ini. Langkah tersebut ditempuh seiring proyeksi melesetnya setoran pajak tebusan tax amnesty yang ditargetkan sebesar Rp165 triliun.

 

"Kemungkinan pemerintah lakukan lelang untuk prefunding tahun depan pada kuartal IV/2016. Momentum itu bisa diambil MI untuk ma suk lewat pasar primer, lan jutnya.

 

Kendati demikian, kapasitas MI untuk mengantongi SBN lewat lelang relatif terbatas lantaran modal yang relatif kecil dibandingkan dengan pe serta lelang lainnya, terutama bank dan investor asing.

 

"Kalau lewat pasar sekunder, harganya sudah naik karena risiko fluktuasi harga SBN relatif tinggi," tuturnya.

 

Potensi koreksi pasar obligasi karena tekanan sinyal penaikan Fed Fund Rate justru dapat dimanfaatkan un tuk berburu obligasi. Namun, akan sulit untuk mencari obligasi dengan kupon besar, terutama obligasi korporasi yang tidak selikuid SUN.

 

Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menuturkan potensi kenaikan harga obligasi pada tahun ini relatif terbatas. Pasalnya, kenaikannya sudah cukup tinggi sepanjang tahun berjalan.

 

Menurutnya, dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap reksa dana pendapatan tetap tidak besar karena Indonesia memiliki tingkat inflasi yang rendah dan potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia.

 

"Untuk tahun ini, potensi return 2-3% masih dimungkinkan dari pendapatan kupon obligasi," ujarnya, Selasa (30/8/2016).

 

Sumber : Bisnis Indonesia