Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Manajer Investasi Naikkan Target IHSG ke Level 6.000 Akhir Tahun Ini

Monday, 01 August 2016


JAKARTA — Perekonomian yang membaik, harapan keberhasilan program pengampunan pajak, dan arus dana investor asing membuat perusahaan sekuritas dan manajer investasi merevisi target pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan menjadi lebih tinggi lagi. Suku bunga dan inflasi rendah juga menjadi salah satu pendorong saham.

 

Sejumlah kalangan yang dihubungi Kompas, pekan lalu dan Minggu (31/7), mengatakan, perbaikan itu mulai terlihat sehingga mereka merevisi target pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun ini.

 

Menurut Alvin Pattisahusiwa, Direktur Investasi Manulife Aset Manajemen Indonesia, secara bertahap terjadi perbaikan produk domestik bruto dan profitabilitas perusahaan. Selain itu, pengesahan Undang-Undang Pengampunan Pajak menghapuskan ketidakpastian di pasar. "Masih ada potensi kenaikan peringkat dari Standard and Poor's (S&P) yang akan berdampak positif atas persepsi dan imbal hasil obligasi Indonesia," katanya.

 

Dia menambahkan, S&P masih memperhatikan postur fiskal Indonesia. Jika program pengampunan pajak berjalan baik, diharapkan S&P akan menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi. S&P merupakan satu-satunya pemeringkat global yang belum menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi. Melalui program pengampunan pajak, pemerintah menargetkan mendapatkan tambahan pemasukan pajak sebesar Rp 165 triliun yang akan digunakan untuk membiayai anggaran. Salah satu alasan yang diajukan S&P belum menaikkan peringkat adalah kekhawatiran soal target pendapatan pemerintah yang mungkin meleset sebelum ada UU Pengampunan Pajak.

 

"Melihat keadaan perekonomian yang membaik, kami merevisi kisaran target IHSG menjadi 4.845-5.550 dari kisaran target sebelumnya 4.613-5.353," kata Taye Shim, Kepala Riset Daewoo Securities.

Taye Shim juga berharap program pengampunan pajak dapat berhasil dengan baik. Namun, dari beberapa pertemuan sosialisasi yang diikutinya, dia beranggapan kualitas informasi yang disampaikan kepada khalayak masih rendah. "Masih banyak pertanyaan soal hal teknis yang belum dapat dijawab, belum diatur," katanya.

 

Beberapa investor yang memiliki banyak properti, misalnya, bingung bagaimana harus membayar tebusan karena harga propertinya sudah meningkat dan tidak memiliki dana tunai. Pertanyaan lain, adakah hukuman bagi mereka yang memasukkan dana dari luar negeri tanpa melalui bank persepsi atau tidak menginvestasikan dananya pada instrumen investasi yang disediakan pemerintah.

 

Berkelanjutan

 

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto juga optimistis IHSG akan naik lagi. "Untuk tahun 2016, harga wajar IHSG berdasarkan fundamental berada pada kisaran 5.300 dan 5.500, tetapi dengan dukungan sentimen positif ditambah suku bunga rendah ada kemungkinan indeks akan naik berkisar pada level 5.800 dan 6.000 pada akhir tahun," katanya.

 

Dampak pelambatan ekonomi terhadap kinerja laporan keuangan pada tahun lalu akan berubah menjadi positif pada laporan keuangan kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

 

Menurut Rudiyanto, yang lebih penting pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya melambat dapat bertambah cepat pada tahun 2017 dan seterusnya akan berdampak terhadap IHSG tidak hanya tahun ini, tetapi juga tahun mendatang.

 

Sepanjang pekan lalu, IHSG menguat 0,36 persen jadi 5.215. Rata-rata nilai transaksi perdagangan harian di Bursa Efek Indonesia naik 13,96 persen menjadi Rp 8,6 triliun dari Rp 7,54 triliun pada dua pekan lalu. Investor asing pekan lalu mencatatkan pembelian bersih Rp 3,23 triliun. Sejak awal tahun, aliran dana investor asing Rp 24,88 triliun. Kapitalisasi BEI meningkat menjadi Rp 5.614 triliun dari Rp 5.593 triliun dua pekan lalu.

 

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melebihi ekspektasi pada pertengahan tahun ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ekspor akan meningkat, industri dalam negeri akan bergerak lebih cepat, dan harga komoditas akan pulih. Hal ini akan turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Di sektor industri jasa keuangan, permintaan kredit akan semakin bertambah.

 

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II-2016 melebihi ekspektasi, yaitu 6,7 persen. Pertumbuhan itu terutama disumbang sektor properti 8,8 persen dan konstruksi 7,3 persen. "Jika permintaan Tiongkok terus membaik, harga komoditas pun akan meningkat, termasuk minyak kelapa sawit dan batubara," katanya.

 

Sumber : Kompas