Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Manajer Investasi : Return Saham dan Obligasi 2016 Lebih Baik

Wednesday, 13 January 2016


JAKARTA - Tahun lalu, kinerja reksadana jeblok. Lihat saja, return reksadana saham minus 14,54% atau lebih buruk dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang minus 12,13% sepanjang tahun 2015.

Lantas bagaimana strategi manajer investasi untuk memaksimalkan return reksadana tahun ini?

Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq menuturkan, perusahaan ini bakal fokus ke efek saham. Ia yakin, IHSG mencapai 5.500-5.600 di ujung tahun ini. Artinya, pasar saham berpotensi tumbuh 19,74%-21,92% dari akhir 2015.

Untuk meracik produk reksadana saham, BNI Asset Management akan memberikan porsi saham sekitar 90%-95%.

"Kalau reksadana campuran, porsi saham 75%, obligasi 25%," ungkap Hanif. Adapun sektor saham pilihannya adalah konsumer, bank, infrastruktur, telekomunikasi, dan kesehatan.

Menurut Hanif, sektor konsumer dan perbankan mendulang untung bila bunga acuan Bank Indonesia (BI) dipangkas ke bawah 7,5%.

Sedangkan Head of Operation and Business Development Panin Asset Management Rudiyanto menguraikan, dalam mengelola portofolio reksadana, Panin Asset Management menerapkan strategi value investing.

Artinya, manajer investasi ini fokus menggenggam instrumen saham dengan valuasi murah dan fundamental cerah. "Kami tidak mengubah porsi berdasarkan situasi. Value investing berbasis pada penilaian saham secara individual sehingga fokus kami di sektornya," kata Rudyanto.

Sebagian besar portofolio ditempatkan pada sektor perbankan, konsumer, properti dan infrastruktur. Terkait return pasar saham 2016, Rudiyanto menuturkan, Panin Asset Management memiliki dua skenario.

Pertama, jika dana asing masuk ke domestik disertai dengan bangkitnya kinerja emiten, maka return saham berpeluang melebihi 20%. Kedua, jika masuknya dana asing agak terhambat akibat risiko perlambatan ekonomi China, return saham 10%-15%.

Aset surat utang

Sebaliknya, Investment Director PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana memaparkan, perusahaan ini bakal menggemukkan porsi obligasi dalam portofolio reksadana, dari semula 25% menjadi 50% di tahun 2016.

Sementara porsi saham mengecil dari 50% menjadi 35%. Sisanya, 15% berupa instrumen pasar uang. Dalam jangka panjang, Jemmy optimistis, pasar obligasi akan melaju kencang karena potensi pemangkasan BI rate minimal 50 bps.

"Obligasi kami menyukai (tenor) yang menengah sampai panjang," tutur Jemmy.

Jika BI rate menyusut, Jemmy menilai, return obligasi negara bertenor panjang bisa mencapai 15% pada tahun monyet api. Proyeksinya, imbal hasil tersebut lebih besar ketimbang return saham yang sebesar 12%.

Jemmy berpendapat, pada semester I-2016, pasar saham masih tertekan akibat penurunan harga komoditas serta perlambatan ekonomi China. "Namun semester II-2016, pasar saham bakal bagus karena anggaran infrastruktur akan terasa ke Produk Domestik Bruto," tuturnya.

Untuk aset dasar obligasi bagi reksadana BNI Asset Management, Hanif bilang, bakal memperpanjang durasi obligasi guna memaksimalkan return. Obligasi yang dipilih adalah surat utang negara (SUN) seri acuan bertenor 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun.

"Kalau obligasi korporasi rata-rata durasinya tiga. Kalau pegang obligasi negara berdurasi tujuh, BI rate turun 100 bps, bisa mendapat kenaikan harga (capital gain) sekitar 7%," prediksi Hanif.

Sumber : Kontan.co.id